Breaking News

Sang Pejuang Lingkungan

Pak Joko Kehutanan demikian sapaan pria Bantan, Kecamatan Membalong, Kab. Belitung yang amat mencintai kehutanan, minat nya melestarikan Hutan di Bantan, Kecamatan Membalong muncul muncul ketika Membalong dirambah industri tambang dan industri kehutanan (Sawit dan lain-lain), Pak Joko menyatakan apa arti bumi bagi masyarakat Bantan. Ibu kita itu siapa? Ibu kita adalah tanah. Tanah adalah ibu yang menyusui. Bagaimana bisa kita menyangkal Ibu? Kita tak bisa dipisahkan dari sumber daya alam karena kita tak bisa dipisahkan dari tanah, kita hidup dari situ. Orang meninggal kembali ke tanah.

“Kehancuran nyata terjadi tahun 2000-an ketika hutan tanaman industri mulai masuk ketika hutan-hutan di Kecamatan Membalong ditebangi dan diganti dengan Kelapa Sawit, debit air pun berkurang,” jelasnya Pak Joko.

Pertanyaannya satu, Alam mulai rusak dari kapan? Pada awalnya alam bersahabat dengan manusia. Penduduk Membalong terutama di Bantan bisa hidup berkecukupan. Mereka berladang di tanah seluas 2-3 are. Mereka bahagia.

Pak Joko menyimpulkan, jika ingin memenangi perjuangan melawan kekuatan yang menghancurkan alam, mereka harus melacak jejak sejarah, melacak jejak ritual seperti Niok Tanggok. Kalau tak tahu sejarah, berjuang bagaimanapun tak bakal menang.

Guna melestarikan kekayaan alam, membuat panggung untuk pentas seni tradisionil guna memacau semangat berkumpul dan ajang refleksi masyarakat, dan nanti orang Kembiri mempertunjukkan Seni Tradisionil Dul Mulok serta seni lain yang berhubungan dengan pangan dan tarian yang berhubungan dengan sumber daya alam.

Menurut Pak Joko apa yang dilestarikan di Hutan yang dikelola nya seluas 28 Hektar di Bantan ini adalah untuk  memberikan simbol  dan ucapan terima kasih kepada alam yang sudah berkontribusi mensejahterakan masyarakat Bantan, tanaman Kelekak seperti Duren, Manggis, Cempedak, Duku, Rambutan dan lain-lain

Pak Joko menyebut diri nya sudah pernah meminta Dinas Kehutanan Bangka Belitung untuk membantu melestarikan hutan asli di Bantan, namun sampai hari ini hanya sebatas kunjungan tanpa implementasi, “Meski ini pekerjaan yang berat, kami mau tunjukkan kepada pemerintah  dan masyarakat umum, bahwa untuk melestarikan hutan tidak hanya sebatas teori, tetapi juga tidak melupakan nilai-nilai yang diwariskan leluhur,” katanya.

Dibenaknya, Pak Joko dengan Istri nya punya rencana besar, ke depannya, ia akan membuka sebuah Sekolah Kampung, yang merekrut dan menyekolahkan anak-anak selepas Sekolah Dasar menjadi siswa dan mengasramakan mereka di Bantan,  tempat belajar bersama masyarakat adat. Tujuannya, mengajarkan anak-anak tentang berbagai hal yang berhubungan dengan pelestarian lingkungan dan alam. Para siswa nantinya akan diajarkan bertani selaras alam.

Perjuangan Pak Joko pun tampaknya masih harus terus berlangsung. Di satu sisi, ia tak memungkiri, terkadang ia merasa lelah terus-menerus berupaya mempertahankan kelestarian alam wilayahnya. Namun, rasa lelahnya itu segera terkalahkan dengan tekadnya untuk tidak memberi ruang kepada orang lain yang ingin menguasai kampung halamannya.

(Dikisahkan oleh Pak Joko kepada Akhlanudin/Ketua Dewan Kesenian Belitung/Pimred Gema UHAMKA, 4 Februari 2016)
DSC_0309 DSC_0310 DSC_0318 DSC_0319 DSC_0320

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*