DSC_0004

Jakarta – Aksi pembakaran rumah ibadah di Tanjung Balai, Sumut menuai berbagai kecaman. Ketua Pergerakan Indonesia Maju Din Syamsuddin mengatakan aksi tersebut tidak dapat ditoleransi.

“Kita mengecam keras, menyesalkan terjadi kekerasan dengan pembakaran rumah ibadah. Aksi kekerasan dalam bentuk apapun, dalam motif apapun tidak ditoleransi. Apalagi terhadap rumah ibadah yang sangat dihormati. Dalam perang pun rumah ibadah tidak boleh dirusak,” ujar Din di kantor Pergerakan Indonesia Maju, Menteng, Jakpus, Rabu (3/8/2016).

Din meminta agar aparat dapat meredakan situasi. Hal itu diperlukan agar kejadian ini tidak menjalar ke tempat lain.

“Sekarang pemerintah bergerak cepat mengatasi keadaan, tapi perlu pencegahan atau preventi jangan sampai terulang. Dengan mencari akar permasalahan,” ujar Din.

Din meminta akar persoalan ini ditelisik secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi agama. Kemungkinan ada faktor-faktor lain yang ikut menjadi pemicu.

“Memang ada faktor keagamaan yang tampil dalam eksklusif, ekstremis. Tapi ada faktor non agama, ada faktor ganda yaitu faktor keagamaan dan sosial ekonomi. Saya tidak tahu mana yang primer, mana yang sekunder. Inilah faktor yang harus dicegah ke semua pihak,” ujar Din.

“Umat Islam harus tampil dalam wawasan keislaman yang rahmatan lil alamin. Walaupun saya tahu, mereka terpuruk secara ekonomi. Karena ekonomi dikuasai oleh pihak lainnya. Tapi tidak boleh dijadikan alasan untuk ngamuk,” sambung Din.

Din juga meminta kepada pihak lain, di luar umat islam untuk juga bertoleransi. Sehingga penyelesaiannya berkeadilan.

“Kemarin masalah Tolikara dan Singkil sempat ada yang merasa tidak adil. Karena ada yang diundang ke Istana di satu pihak dan ada juga di pihak lain yang ditindak keras. Apapun, kita tidak mengharapkan kejadian serupa terulang,” kata Din.

Sumber : Detiknews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *