13680595_1254894604528829_2457287981326587352_n

JAKARTA – Serial yang ditayangkan di televisi tak jarang dikritik oleh masyarakat. Sejumlah adegan dalam serial TV dinilai kurang mendidik.

Hal itu dibahas dalam diskusi bertajuk “Wajah Pendidikan Dalam Serial TV Kita” yang diadakan di Uhamka Pasar Rebo Jakarta, Kamis (28/4). Diskusi tersebut digelar oleh Uhamka dan Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Diskusi tersebut menampilkan line producer Sinemart Dani Sapawie, anggota LSF dan pengajar IKJ Arturo GP, Dr Edy Sukardi (Uhamka), serta pemeran sinetron serial “Anak Jalanan”  Fathir Muchtar dan Stefan William.  Acara yang dihadiri oleh Ketua PP Muhammadiyah bidang Pendidikan, Seni Budaya, dan Olahraga Prof Dr Muhadjir Effendi MAP itu diikuti oleh ratusan mahasiswa Uhamka yang umumnya merupakan calon guru.

“Diskusi ini akan ditindaklanjuti dengan workshop film bagi para guru, mahasiswa, dan pelajar di beberapa kota di Indonesia,” kata M Taufan Agasta, pegiat Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang menjadi moderator dalam diskusi tersebut.

Line producer Sinemart Dani Sapawie mengatakan  Sinemart punya standar nilai dalam menentukan judul dan muatan film dan film TV yang diproduksinya. Diakuinya, tidak semua orang setuju dan memiliki standar moral yang sama dengan yang digariskan Sinemart tentunya.

“Tetapi Sinemart meyakini bahwa program yang diproduksinya tidak hanya mempertimbangkan TV rating dan sharing,” ujar Dani saat tampil dalam diskusi bertajuk “Wajah Pendidikan Dalam Serial TV Kita” yang digelar di kampus Uhamka Pasar Rebo Jakarta, Kamis (28/4).

Diskusi tersebut juga menampilkan pembicara anggota LSF dan pengajar IKJ Arturo GP, Dr Edy Sukardi (Uhamka), serta pemeran sinetron serial “Anak Jalanan”  Fathir Muchtar dan Stefan William.

Dani menyebutkan, serial TV yang saat ini menjadi top rating seluruh program televisi, yakni serial “Anak Jalanan” juga berada di koridor keseimbangan antara hiburan dan penularan mental positip bagi khalayak.  Dalam konteks hiburan, kata Dani, dialog dan adegan yang seringkali dianggap tidak mendidik sudah melewati pantauan Lembaga Sensor Film (LSF).

“Walau Sinemart sangat memperhatikan koridor LSF, beberapa adegan harus dihilangkan setelah dikaji LSF,” tutur Dani yang juga membidani serial “Ketika Cinta Bertasbih”, “Tukang Bubur Naik Haji”, sederet FTV bernuansa Islami, dan banyak tayangan bermuatan edukatif lainnya.

Dani mengemukakan, posisi Serial TV “Anak Jalanan” yang saat ini berada di top rating, adalah buah pikir cerdas dan kerja keras para sineas dalam membaca realitas, tentu termasuk realitas pasar yang sangat kompetitif.

“Pesan moral untuk bersikap jujur, santun, menghormati guru yang disampaikan Serial Anak Jalanan bukan sekedar tempelan dan sisipan. Secara konsisten muatan itu tersirat dari episode satu ke episode lainnya,” papar Dani Sapawie.

Editor : akhlanudin

Leave a Reply