001

 

Jakarta – Pertandingan final cabang olahraga Judo kelas -52 kilogram putri pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016 di GOR Saparua Kota Bandung, Jumat 16 September 2016 menyita perhatian penonton. Pasalnya, judoka DKI Jakarta, Ismayasari harus menguras seluruh tenaga demi menaklukan perlawanan atlet Jawa Barat, Herlina Gitaningsih.

Sebelas menit lebih pertarungan Ismayasari dan Herlina berlangsung. Memanfaatkan tenaga terakhirnya, Ismayasari akhirnya berhasil menaklukan Herlina yang juga sudah kehabisan tenaga dengan teknik yuko.

Ismayasari, 27 tahun, ngotot bermain habis-habisan demi cita-citanya, pensiun dari dunia judo dengan membukukan kemenangan manis.

“Saya tahun ini terakhir ikut PON. Saya mau pensiun, tapi maunya pensiun cuma ninggalin kenangan bagus,” kata Ismaya, peraih perunggu SEA Games Myanmar, 2013.

 

Niat Ismayasari tercapai, medali emas terakhirnya di ajang PON berhasil diraih menemani dua medali lainnya yakni medali perunggu pada PON 2012 dan medali perunggu lainnya di ajang SEA Games Myanmar. Bukan tanpa sebab Ismayasari menyatakan pensiun. Menurut dia para pelatih juga ikut mendorongnya untuk pensiun lantaran cedera lutut kambuhan yang sering didapatkannya.

“Kakinya udah banyak cedera di bagian lutut. Sebenarnya bisa maksain cuma malah nantinya tambah parah,” katanya.

Tidak sia-sia program latihan selama 3 bulan di Korea Selatan yang dijalani Ismayasari. Menurut dia, sejak pelatihan di negeri ginseng tersebut kemajuan yang dialaminya cukup pesat. Bahkan, dia tidak pernah menyangka bisa mengalahkan judoka asal Jawa Timur, Yuliati, yang juga menjalani latihan di Korea Selatan bersamanya.

“Yang berat sebenarnya Yuliati dari Jatim. Dia juara terus di kelas -52 kilogram. Ternyata di semi final bisa ngalahin dia, saya juga kaget,” katanya.

Apakah Ismayasari akan melatih setelah pensiun? Ternyata tidak, wanita lulusan Manajemen Pemasaran Universitas Muhammadiyah Prof.DR.HAMKA (Uhamka) ini berencana mengaplikasikan kemampuannya dalam menjahit pakaian.

“Rencananya saya mau buka butik dengan desain sendiri,” ungkap Ismayasari.

Kemampuan menjahit pakaian wanita didapatnya dari orangtuanya. Sedari kecil, sang ayah mengajarinya menjahit pakaian. Kemampuannya bertambah ketika sekolah menengah atas mengambil kejuruan di bidang Tata Busana.

“Seringnya sih bikin kebaya,” tuturnya penuh senyum.

Selain itu, Ismayasari mengaku ingin hidup normal seperti wanita kebanyakan. Meski cukup menorehkan prestasi, Judo yang ditekuninya sejak kelas 6 SD sedikit banyak mengurangi waktu bersama keluarga tercintanya.

“Sebenarnya judo bikin saya kalau ketemu orang enggak minder dan lebih pede. Tapi ya, enaknya hidup normal kaya cewe biasa. Soalnya selama ini waktunya habis banyak.
Sama keluarga jadi jarang. Seminggu sekali pulang, keluarga sering ditinggal,” katanya.

Pelatih Judo DKI Jakarta, Putu Armika mengaku mengagumi sosok Ismayasari. Di matanya, Ismayasari adalah sosok wanita penurut dan selalu mengikuti arahannya tanpa banyak membantah.

“Mental bertandingnya memang bagus. Dia juga rajin latihan dan orangnya penurut,” kata Armika.

Sumber : Tempo.co.id

Leave a Reply