Breaking News

In Memoriam Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief


Kullu nafsin dzaiqotul maut. Inna lillahi wa inna illaihi rojiun. Izinkan atas nama pribadi saya menyampaikan ayat di atas untuk almarhum Ayahanda Prof. Dr. H. Abdul Madjid Latief, semoga almarhum diterima iman dan islamnya, di lapangkan kuburnya, diampuni segala dosanya dan ditempatkan bersama orang-orang yang sholeh. Dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi kisah kepada teman-teman, yg menurut saya penuh petuah, innpiratif dan menyejukkan. Sifat dan karakter beliau patut dipuji, digugu dan ditiru. Sabar, ikhlas, tawaddu, kona’ah, dan tawakaltu illallah. Saya adalah salah satu orang yg bersyukur, karena menjadi saksi hidup sebelum kepergian Beliau untuk selama-lamanya.
Kisah ini akan kumulai, semoga bermanfaat tuk kita semua, wabil khusus buat saya. Klw cerpen terlalu panjang, cukup dalam bentuk CERMIN saja.
Bermula dari pelatihan yg diselenggarakan oleh LLDikti wil. 3 kami, PNS Uhamka bersama mengikuti kegiatan di Universitas Mercubuana selama 2 hari. Tidak ada yg istimewa, semua berjalan seperti biasa. Tegur sapa, salaman, say hello.
Hari kedua pun sama. Say hello, tegur sapa, salaman. Singkat cerita…….
Ini kisahku….
Entah mengapa, aku duduk bersama Beliau ketika santap siang. Masih tergiang dalam ingatanku, Ia berkata, ” Eminya enak bgt, Kang Denhas, Saya mau nambah”. Ku jawab hanya dua kata,” Silakan Prof.
Kutatap wajah Beliau, tampak ekspresi kenikmatan menyantap emi di pringnya, sruput, Sruput nyam nyam. Habis dan bersih. Beliau minum, istirahat sejenak!
Pak Denhas, ” Saya mau ke masjid, sholat.
“Siap Prof, saya menyusul”.
Beliau berjalan ke depan dengan santai, sayup sayup terdengar suara Ibu-Ibu memanggil.
“Prof. Madjid foto yu, PNS Uhamka buat kenang-kenangan.
Kutatap dari kejauhan, Beliau sangat ceria, senang, gembira, dan suka cita ( tidak ada satu pun yang menyangka, foto itu menjadi kenangan yg terakhir bagi Ibu-Ibu).
Setelah kuhabiskan santap siangku, kulangkahkan kakiku menuju masjid di seberang kampus.
Dari kejauhan, tampak Beliau sedang bersandar sambil mulutnya berzikir. Kusapa Beliau.
“Belum pulang Prof?
“Belum, saya menunggu dijemput istri”. Kita terlalu cepat pulang, istri saya tahunya pulang sore, yah saya tunggu di sini”.
“Saya sholat dulu, Prof” Silakan jawab Beliau.
Setelah kusholat, aku masih melihat Beliau tetap ditempatnya, sambil terus berzikir.
Kusapa, “Belum dijemput Prof. ” belum jawabnya singkat.
Beliau menatapku lama, seolah ada sesuatu yg ingin diungkapkan.
“Pak Denhas, mau ke mana setelah ini? kujawab singkat, pulang.
” Tidak menunggu ashar”?. Saat itu cuaca sangat terik, sekitar pukul 14.00. Tawaran yg sangat baik, kupikir. Tapi jika dipikir lebih dalam. Itu adalah isyarat, agar aku bisa menemani Beliau. Sukacita aku menerima tawaran Beliau. Kami mengobrol, kurang lebih 2 jam. Santai, akrab, dan banyak nasihat yg disampaikan Beliau. Kuceritakan penuh dalam Cermin, ini sebagai ingatan tuk kita semua.
1. Saya bangga menjadi dosen uhamka, ada kepuasan batin dalam diri saya. Ada kekeluargaan, ada kenikmatan, dan ada kebahagiaan. Uang bukan segalanya. Pak Denhas, mau tahu berapa Tunjangan Profesor di kampus ini, dobel. Dari pemerintah dapat dari kampus dapet. Beliau menyebut angka ( waw fantastis!) Bahkan ada profesor dari ksmpus A, pindah ke ksmpus ini, demi tunjangan itu. Padahal harusnya berpikir, semakin besar pendapatan, pasti banyak pengeluaran.
2. jujur, Beliau menyukai figur Prof. Suyatno, Dosen Uhamka, kader Muhammadiyah, yang tenaga, pikiran, dan waktunya digunakan untuk kemajuan Persyarikatan Muhamnadiyah.
3. Beliau membahas juga ttg Regulasi pengangkatan Asisten Dosen di Uhamka. Selama ini beliau, kepada asisten selalu menunjukkan slip gajinya, ini hak saya, dan ini hak kamu. Tindakan yg putut ditiru. Keterbukaan dan kejujuran.
4. Beliau juga menanyakan, memang ada transportnya kita tugas ke sini. Saya jawab, ada selama ada Surat Tugas. Rupanya selama ini, Beliau tidak pernah atau jarang mengambilnya.
Nasihat Beliau untukku

1. Denhas, sudah Dr. Jangan tinggalkan Uhamka, nikmati semua rezeki yg sudah didapat, berapu pun yg kita terima asal ikhlas, nikmat dibawa pulang.
2. Denhas sudah Dr. Harus jadi profesor. Masih muda, dan sudah Lektor Kepala.
3. Denhas, sudah Dr. Pasti akan bergabung dengan kita di Pascasarjana. Jangan bandingkan, berapa nengawas, berapa honor mengajar, dan berapa membimbing mahasiswa dengan ksmpus ini dan kampus lain. (Rupanya Beliau sempat berbincang dgn Profesor dari Mercubuana)
Dua jam sudah, kami berbincang, tahrim terdengar, tanda waktu sholat Ashar menjelang. Kami menyudahi obrolan dan bergegas ke tempat wudhu.
Di tempat wudhu, aku melihat lagi prilaku ikhlas, yang jujur, belum bisa kulakukan.Ranselku yg berisi laptop tetap setia di punggungku. Sementara Beliau, dgn entengnya menympan tas kulit yg cukup besar di atas kotak amal kebersihan. Beliau bergegas ke kamar kecil yg cukup jauh dan tak tampak. Prilaku yg patut kita contoh, beliau buka dompet dan lsg memasukkan selembar uang kertas dan lsg membawa tas menuju masjid. Beliau benar benar ikhlas dgn tasnya. Padahal jelas jelas ada peringatan ‘Jaga barang bawaan Anda’
Singkat cerita, kami sholat qobliah berdampingan. Tas ksmi simpan di depan. Entah mengapa selesai sholat, kutatap lama Beliau. Duduk sambil berzikir. Ada raut keikhlasan dan tawaddu. (Ku tak menyangka itu merupakan tatapan terakhir)
Selesai sholat, aku izin, bersalaman. Istri Beliau sudah juga menunggu di tempat parkir. Beliau sempat pesan
“Pak Denhas, tolong uruskan surat tugas saya yah.
“Siap Prof dgn penuh keyakinan kujawab. “Besok Prof, bisa ambil di Pitun”.
Ya Allah, ternyata banyak hikmah yg bisa kuambil dari hasil obrolan dgn Ayahku tercinta ini. Aku tak pernah menyangka obrolanku adalah obrolan yg terakhir, salamanku adalah salaman yg terakhir. Aku sempat bercanda, sebelum berpisah, “Saya dari tadi panggil Prof, Prof. Jadi hilang Madjidnya”. Beliau tertawa. Rupanya tawanya pun yang terakhir.
Selamat jalan, Guruku, Ayahku, inspirasiku. Semoga Allah memberikan syurga sebagai tempat kekalmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*