Breaking News

Muhammadiyah Menghadapi Oligarki Kuasa

 Suara Muhammadiyah — Oligarki kekuasaan menurut Ketua PP Muhammadiyah Dr M Busyro Muqaddas, SH, M.Hum, saat ini berada pada posisi terang benderang bermasalah. Karena itu ia berharap melalui diskusi ini bisa mengetahui apa yang bisa dilakukan secara lebih konkrit melalui demokrasi beradab dan damai.

Pendapat itu disampaikan Busyro PP Muhammadiyah Yogyakarta dalam diskusi publik yang digelar PP Muhammadiyah, bertema Daulat Rakyat di Tengah Oligarki Kuasa bertempat di ruang aula lantai 3 gedung PP Muhammadiyah Jalan Cikditiro, Jumat (8/11). Selain Busyro, diskusi kali ini menghadirkan tiga narasumber yang kompeten khususnya di bidang politik dan kesejarahan, yakni Bachtiar Dwi Kurniawan Sekretaris MPM PP Muhammadiyah, JJ.Rizal sebagai sejarawan, dan Eko Prasetyo Social Movement Institute.

Diskusi ini dipandu langsung oleh ketua MPM PP Muhammadiyah Dr.M.Nurul Yamin, M.Si. Sedangkan ketua PP Muhammadiyah Dr.M.Busyro Muqaddas, SH., M.Hum memberikan pidatonya sebagai pengantar diskusi. Busyro Muqaddas mengawali dengan kerangka pendekatan riset di Indonesia yang tengah mengalami krisis dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Riset itu yaitu mengenai perkembangan kenegaraan khususnya dalam hal korupsi dari Civil Society Organization tahun 2014.

Dalam diskusi tersebut Eko salah satu narasumber mengungkapkan bahwa keberadaan tindak korupsi saat ini berada dalam posisi sangat megkhawatirkan, hingga hal tersebut menjadi kebudayaan yang sudah biasa di kalangan masyarakat. Maka hal itu perlu pendidikan moral yang diterapkan melalui lembaga-lembaga pendidikan. “Karena pendidikan merupakan alas dasar yang penting sekali”, lanjut Eko.

Mengingat apa yang dikemukakan Eko, menurut Bachtiar sekretaris MPM PP Muhammadiyah, menjelaskan bahwa untuk menindas oligarki kekuasaan ini harus memiliki kapasistas ekonomi masyarakat yang tidak mudah dibaca oleh peenguasa, kedua bagaimana kapasitas edukasi masyarakat harus lebih baik dalam berdemokrasi, sehingga masyarakat akan bisa diajak berpikir dibanding diajak mobilisasi.

Tak hanya itu, dalam penutup diskusinya Eko mengungkapkan bahwa Muhammadiyah bisa menjadi mobilitas untuk menghapus oligarki kuasa ini dan membentangkan kebaikan-kebaikan terhadap semua orang melalui lembaga-lembaga yang dimiliki Muhammdiyah.

“Tugas Muhammadiyah, membuat sebuah keadaan yang mengharuskan kebaikan itu harus tebentang melalui pendidikan, kesehatan, dan lainnya anda punya semua,” ungkap Eko. (US)

 

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama UHAMKA  dengan suaramuhammadiyah.id. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab suaramuhammadiyah.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*