penumbra

Berdasarkan informasi dari LAPAN bahwa pada tanggal 6 Juni 2020 akan terjadi Gerhana Bulan Penumbra. Informasi tersebut dapat diperoleh di sini. Gerhana Bulan Penumbra terjadi ketika Bulan melewati bayangan sebagian bumi.

Gerhana tersebut dapat disaksikan mulai pukul 00.45.51 WIB sampai dengan pukul 04.04.03 WIB. Adapun puncaknya terjadi pada pukul 02.24.55 WIB.

Gerhana Bulan Penumbra tanggal 6 Juni 2020 akan terlihat di sebagian besar Eropa, Afrika, Asia, Australia, Samudra Hindia, dan Australia. Selama Gerhana Bulan Penumbra tersebut, Bulan akan sedikit lebih gelap dari biasanya

Berdasarkan fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang dimuat pada majalah Suara Muhammadiyah dan website www.fatwatarjih.or.id, maka saat terjadi Gerhana Bulan Penumbra, tidak disunahkan untuk melakukan shalat sunah gerhana. Detail fatwa tersebut sebagai berikut..

Dari ‘Ā’isyah, istri Nabi SAW, [diriwayatkan bahwa] ia berkata: Pernah terjadi Gerhana Matahari pada masa hidup Nabi SAW, lalu beliau keluar ke masjid dan jamaah berdiri bersaf-saf di belakang beliau. Rasulullah SAW bertakbir lalu beliau membaca qiraat yang panjang, kemudian beliau bertakbir dan rukuk dengan dengan rukuk yang lama. Lalu beliau mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah dan berdiri lurus, kemudian tidak sujud, melainkan membaca qiraat yang panjang, tetapi lebih pendek dari qiraat pertama, kemudian beliau rukuk yang lama, tetapi lebih singkat dari rukuk pertama. Kemudian beliau membaca sami‘allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamd. Kemudian beliau sujud..

Kemudian pada rakaat kedua (terakhir) beliau mengucapkan ucapan seperti pada rakaat pertama, sehingga terpenuhi empat rukuk dan empat sujud. Kemudian sebelum beliau selesai, Matahari lepas dari gerhana. Kemudian beliau berdiri dan mengucapkan tahmid untuk memuji Allah sesuai dengan yang menjadi kepatutan bagi-Nya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena mati dan hidupnya seseorang. Jika kamu melihat keduanya, segeralah mengerjakan shalat [HR al-Bukhārī, an-Nasā’ī, dan Aḥmad].

Menurut hadis di atas, shalat gerhana dilakukan apabila terjadi Gerhana Matahari atau Gerhana Bulan. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah memahami kata “melihat” dalam hadis di atas tidak melihat secara fisik, namun dimaknai mengalami, yakni kawasan tempat kita berada tertimpa bayangan gelap (umbra) atau bayangan semu (penumbra) dalam kasus Gerhana Matahari, atau tertimpa bayangan gelap (umbra) bulan dalam kasus Gerhana Bulan..

Dengan demikian, walaupun seseorang tidak melihat gerhana itu secara fisik karena saat itu hujan lebat misalnya atau keadaan langit berawan tebal yang menghalangi terlihatnya gerhana, saat itu tetap disunatkan shalat gerhana karena ia sedang mengalaminya, meskipun tidak melihatnya secara fisik lantaran tertutup awan tebal

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *