WhatsApp Image 2020-06-18 at 1128

Oleh: Didik Suhardi, Ph.D.

Direktur PSMP Kemdiknas (2008–2015) dan Sekretaris Jenderal Kemdikbud (2015–2019)

Dalam proses pendidikan, semua sepakat bahwa guru adalah faktor penentu utama kualitas pendidikan. Beberapa ahli mengatakan, 50 sampai 60 persen kualitas sekolah ditentukan oleh kualitas gurunya. Apabila kualitas dan komitmen gurunya baik, maka hasil belajar siswanya juga baik.

Merujuk ajaran Ki Hajar Dewantoro, bahwa guru harus momongamong, dan ngemong yang artinya supaya para guru dapat mendidik siswanya dengan cara mengasuh dan memberi nilai-nilai yang positif dalam kehidupan mereka. Mengasuh di sini bukan dengan cara paksaan, melainkan dengan memperhatikan, menuntun, atau mengarahkan agar siswa bebas mengembangkan diri, supaya semua dapat merdeka batinnya, pikirannya, juga tenaganya. Tujuan pendidikan adalah untuk memanusiakan (memerdekakan) manusia.

Agar bisa menjadi profesional seperti harapan Ki Hajar Dewantoro, maka para guru diharapkan mempunyai kriteria yang meliputi aspek kompetensi substansi (expertise), tanggung jawab sosial (social responsibility), serta kesejawatan (esprit de corps). Profesi guru sangat strategis karena menjadi salah satu penentu keberhasilan suatu bangsa.

Prof. Muhadjir Effendy (mendikbud 2016-2019) mengatakan, “The real curriculum is guru”. Kurikulum yang bukan dalam bentuk dokumen adalah guru. Sehebat apapun kurikulumnya, kalau kapasitas gurunya kurang, maka di kelas tidak terjadi perubahan apa-apa. Jadi, guru profesional dengan kriteria di atas wajib kita siapkan dengan baik.

Berbagai program pelatihan guru pernah dilakukan oleh kementerian. Pada tahun 1982, Bank Dunia pernah membantu Indonesia dengan program Pemantapan Kerja Guru dan Sanggar Pemantapan Kerja Guru (PKG/SPKG). Spirit dari program ini adalah dari guru, oleh guru, dan untuk guru. Guru yang terbaik dipilih menjadi instruktur di tingkat nasional, guru inti di tingkat provinsi, dan guru peserta di setiap sanggar. Model pelatihan disiapkan berjenjang (cascade programme). Program ini berlangsung sampai dengan awal tahun 90-an.

Program pelatihan berikutnya kita kenal MGMP/MGBS (Musyawarah Guru Mata Pelajaran/Musyawarah Guru Bidang Studi). Semangat dari model ini adalah mengoptimalkan waktu guru, di mana setiap guru punya waktu 1 (satu) hari tidak mengajar dan dimanfaatkan untuk mengikuti kegiatan MGMP/MGBS. Program ini disebut juga weekly meeting karena setiap seminggu sekali, mereka bertemu untuk mengevaluasi proses pembelajaran minggu sebelumnya, melakukan evaluasi untuk perbaikan dan merencanakan untuk program minggu berikutnya.

Banyak lagi program pelatihan yang sudah dan sedang dilakukan, misalnya Guru Pembelajar dan PKP (Peningkatan Kompetensi Pembelajaran). Kesimpulannya, kita belum puas dengan hasil pelatihan karena dampak terhadap proses belajar mengajar dan hasil belajar belum optimal. Ini bisa dilihat dari hasil Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan juga hasil PISA (Programme International for Students Assesment) yang belum menggembirakan.

Ungkapan dari William Arthur Word tersebut patut dipertimbangkan. Bisa jadi, sebetulnya yang dibutuhkan para guru kita adalah bagaimana mereka bisa menjadi inspirator bagi siswanya. Kenapa demikian? Karena semua materi mulai dari yang mudah sampai yang tersulit, sudah ada, baik di buku, maupun di internet. Siswa tinggal mencari materi sendiri dengan menjelajah dunia maya. Jadi, yang dibutuhkan, ada guru yang bisa menjadi inspirator.

Guru inspiratif bisa membawa siswanya menjadi pemelajar yang tangguh, sukses, menggerakkan kreativitas, berpikir kritis, meningkatkan keingintahuan, memotivasi, dan meningkatkan prestasi dengan penuh semangat. Materi pelatihan terkait substansi guru bisa mencari sendiri. Semua materi dan model pembelajaran baik yang sudah disediakan pemerintah, pegiat pendidikan, maupun masyarakat sangat banyak.

Materi pelatihan utama lebih banyak pada bagaimana menjadi motivator, penggunaan teknologi dan media pembelajaran, menjadi guru inspiratif, penanaman nilai-nilai kedisiplinan, kerja keras, kemandirian, tanggung jawab, berpikir kritis, kreatif, berkomunikasi dengan baik, kerja sama, toleransi dan nilai-nilai lainnya yang mereka perlukan untuk kehidupan masa depannya

Pelatihan juga bisa ditambahkan dengan menyusun rencana pembelajaran selama satu tahun atau satu semester, termasuk mengumpulkan bahan ajar yang bisa digunakan di sekolah masing-masing. Pada saat kembali, para guru sudah punya bekal yang cukup untuk digunakan selama satu tahun atau satu semester–sebaiknya dibuat per semester. Kalau ada pelatihan lagi, bisa dilakukan evaluasi sekaligus menyusun rencana pembelajaran dan mencari bahan ajar untuk semester berikutnya.

Bagaimana mempraktikkan pembelajaran di kelas?

Para guru sebelum mulai mengajar, membuat jadwal pelajaran berdasarkan bahasan/subpokok bahasan apa yang akan dipelajari pada setiap pertemuan. Jadwal pelajaran bisa diberikan lebih dahulu kepada siswa agar mereka bisa mempersiapkan sejak dini dengan mencari referensi, baik dari buku maupun berselancar di dunia maya.

Menjelajah dunia maya bukan berarti kita beri kebebasan yang sebebas-bebasnya, tetapi ada rambu-rambu. Cara ini juga sekaligus bisa digunakan untuk mendidik siswa agar menggunakan gadget untuk kepentingan belajar dari pada kita melarang yang akhirnya mereka tetap sembunyi-sembunyi menggunakan gadget untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

Dengan model ini, guru bisa mempraktikkan model pembelajaran berpusat pada siswa. Proses discovery learning berjalan dengan sendirinya. Guru sambil membimbing siswanya punya waktu juga untuk menggali dan berselancar di dunia maya untuk belajar dan menambah pengetahuan sesuai kebutuhan dirinya.

Bagaimana proses pembelajaran bagi daerah yang infrastrukturnya belum baik? Kita bisa lakukan berbasis offline. Dalam pelatihan guru, bisa mengompilasi dulu materi-materi/bahasan/subpokok bahasan yang akan digunakan. Bisa dibuat per semester, per bulan, atau dibuat untuk setiap pertemuan. Dengan demikian, kegiatan belajar tetap bisa berjalan dan diatur sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

Pemikiran ini bisa menjadi pertimbangan untuk membangun guru profesional era Industri 4.0. Kita sangat berharap dengan penyiapan pelatihan yang lebih baik, akan berdampak proses pembelajaran yang menyenangkan dan dinamis. Guru sebagai penggerak dan inspirator dapat kita wujudkan di dalam kegiatan belajar-mengajar. Dengan upaya yang luar biasa dan komitmen tinggi, kita bisa mewujudkan “Generasi Indonesia Emas 2045”.

Mencuplik Sabda Nabi Muhammad Saw., “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang selalu berdoa untuknya” (H.R. Muslim). Semoga semua yang dilakukan oleh guru kita bisa menjadi bagian dari amal sebagaimana yang dimaksud dalam hadis ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *