WhatsApp Image 2020-07-03 at 1137

Perkembangan isu di media sosial luar biasa cepat dan luas. Isu apa saja menjalar bagai wabah. Dari orang berperilaku aneh-aneh sampai isu reshuffle. Dari berita yang sahih sampai  desas-desus dan hoaks. Semua campur aduk dan dipercaya seolah benar semua.

Di era medos orang menjadi lapar isu. Setiap hari, malah setiap saat, yang diproduksi isu. Isu-isu panas, bahkan atasnama kebenaran. Semua mudah disantap. Anehnya menghadapi isu hoaks pun dengan gampang orang bersikap.  Bahkan memberi penilaian dengan segala pesan ‘moralis’ ala sinter-klas.  Atau ala hakim yang mudah memvonis. Padahal jelas hoaks alias berita palsu.

“Sungguh, media sosial menjadi dunia baru bagi masyarakat modern saat ini. Mereka  selain gemar dan piawai berinteraksi melalui twitter, facebook, instagram, whatshapp, dan lainnya. Sebagian bahkan sudah tergantung dan kecanduan pada media digital tersebut.  Tiada detik tanpa bermedsos. Lepas sedikit saja, seolah ada yang hilang dari dirinya,” tutur Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir pada Jum’at (3/7).

Medsos bagaikan dewa janus bermuka dua. Wajah baik dan buruk. Melalui media baru ini manusia menjadi sangat mudah, cepat, efisien, menjalar,  dan memiliki pengaruh dahsyat dalam mengembangkan relasi sosial yang positif. Medsos menjadi tempat bersilaturahmi yang baik. Medsos juga sangat penting menjadi wahana berbagi informasi, pengetahuan, dan hal-hal yang positif bagi kehidupan.

“Namun di medsos pula beragam keburukan dapat bersemai subur, nyaris  tanpa kendali. Medsos menjadi lahan mekar hoaks, curiga, hujat, ghibah, suudzon, caci maki, kebencian, dan benih konflik antarsesama dengan mudah. Inilah dunia baru manusia dan masyarakat di era revolusi teknologi informasi. Saling curiga dan menghakimi pun menjadi kebiasaan baru,” ujar Haedar.

Dalam dunia media sosial tersebut akhlak mulia pun mengalami erosi. Sopan santun, tutur kata baik, kejujuran, tabayun, dan nilai-nilai budi luhur tergerus oleh hoaks, silang sengketa, ujaran-ujaran buruk, fitnah, ghibah, dan segala hal negatif yang dicandra menjadi lumrah. Sebagian orang gemar sekali menyebar wajah kehidupan yang serba negatif. Seolah dunia semuanya gelap dan tidak ada kebaikan dalam hidup bersama ini.

Imajinasi buruk dan hoaks pun dapat dijadikan kebenaran terstruktur, sistematis, dan masif. Kata  Jean Baudrillard, tercipta simulacra yakni realitas buatan yang mempesona menjadi benar. Prasangka, opini sepihak, data bias, dan subjektivitas sertamerta dianggap benar. Inikah yang disebut  dunia pasca-kebenaran (post-truth). Provokasi jika terus-terusan ditanamkan dan disebar melalui medsos lama kelamaan akan menjadi nyata.

“Publik mudah tergiring pada isu-isu dan tayangan-tayangan panas yang dapat memantik emosi kolektif secara luas tanpa endapan kejernihan hati (qalbu salim) dan pikiran bening (aqlu salim). Setiap orang bisa saling berseteru dengan garang dan saling berhadapan tanpa rasa sungkan. Dunia digital ini memang bersifat impersonal dan tidak menyentuh ranah personalitas yang bersifat langsung. Saling percaya antar sesama luruh. Orang menjadi heroik menghujat pihak lain tanpa jiwa irfani,” tutur Haedar.

Tidak jarang karena asyik-masyuk dengan dunia medsos, orang merasa sudah berbuat. Pekerjaan sehari-hari akhirnya hanya bermedsos. Lupa mengurus urusan dan tanggungjawab utama dalam dunia lain yang nyata seperti bekerja keras membangun sesuatu yang positif bagi kehidupan. Lupa memajukan organisasi. Hal yang menjadi perhatian hanyalah isu-isu luar, kondisi internal diabaikan karena merasa sudah berbuat lewat medsos. Bermedsos pun sebatas menjadi konsumen, bukan produsen yang konstruktif dan positif.

“Salahkah medsos dan teknologi informasi? Sama sekali tidak salah. Medsos itu pada dasarnya netral. Dunia baru ini seperti tabularasa, hitam dan putihnya tergantung siempunya. Semua tergantung manusianya. Manusialah pencipta dan pengisi medsos. Mau dijadikan positif atau negatif tergantung kita manusianya sebagai pelaku. Bukan sembarang manusia sosok al-basyar, sekadar makhluk Tuhan yang berdiri tegak tanpa hati dan akal pikiran jernih. Harus menjadi manusia  sebagai abdullah dan khalifatul fil-ardl,” tegas Haedar.

Bagi setiap muslim sebenarnya patokannya jelas. Pakailah akhlak Al-Hujarat (Al-Hujarat Ethics). Hadapi berita dan segala hal yang berkembang di media sosial dengan  tabayun. Cek dan seleksi setiap informasi dengan kritis, cerdas, dan beretika tinggi. Tabayun tidak perlu disertai segala opini negatif. Jauhi ghibah, suudzon, dan hal-hal buruk yang membuat sesama kita seolah makan bangkai saudara sendiri.

Bukankah nilai-nilai Islam yang luhur tersebut selalu disuarakan dan menjadi rujukan normatif selama ini? Kenapa tidak dipraktikkan dalam dunia nyata di media sosial. Bermedsos itu baik, tetapi pakailah akhlak mulia. Ciri ulil-albab dan mendapat hidayah ialah “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Az-Zumar: 18).

“Maka, bijaklah dalam bermedsos, dengan bingkai Akhlak Alhujarat,” pungkas Haedar.

Editor : Akhlanudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *