Masih tingginya kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia sangat  berkorelasi dengan ketidaksetaraan gender.

 “Selama ini banyak yang menyamakan antara jenis kelamin dengan gender. Padahal keduanya sangat berbeda. Jenis kelamin bersifat biologis dan merupakan pemberian Allah yang tidak bisa dipertukarkan, sedangkan gender merupakan hasil dari pembiasaan dalam keluarga dan masyarakat,” Dra. Tellys Corliana, M.Hum., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UHAMKA pada pelatihan daring Literasi Digital Kesetaraan Gender pada para siswa SMA Muhammadiyah 3, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Dari asumsi yang keliru ini,muncullah anggapan bahwa laki-laki lebih tegas, lebih logis, dan lebih perkasa, sedangkan perempuan lemah, tidak logis, dan halus. “Anggapan ini keliru, karena tidak sedikit laki-laki yang emosional dan rapuh. Sebaliknya tidak sedikit perempuan yang bisa bersifat tegas dan sangat rasional.” lanjut Tellys,

Ketidaksetaraan gender ini kemudian diperkuat melalui konten-konten dalam media massa. Dalam pemberitaan mengenai perempuan, wartawan yang tidak berprespektif gender sering menulis dengan menambahkan kata-kata yang bias gender. Hal ini paling sering muncul dalam berita-berita kriminal. Sambungnya

Dalam sinetron atau komedi-komedi di televisi pemain perempuan juga kerap mengalami pelecehan. Mulai dari dicela bentuk tubuhnya, caranya berpakaian dan berdandan, hingga dipegang-pegang anggota badannya, bahkan dipukul.

“Tontonan ini seperti mengajarkan pada penonton bahwa perempuan boleh diperlakukan seperti itu oleh laki-laki. Dari sinilah bibit kekerasan terhadap perempuan,” ujar Tellys yang juga banyak meneliti tentang kesetaraan gender.

“Perempuan selalu dirugikan. Dia sudah teraniaya, entah karena diperkosa atau dibunuh, kemudian wartawan masih memberinya label yang bias gender, seperti janda muda, berbadan semok, perawan kutilang darat (kurus, tinggi, langsing, berdada rata), gemar memakai rok mini. Dengan tambahan label tersebut, wartawan seperti menggiring opini pembacanya bahwa perempuan tersebut layak dilecehkan,” ujar Dr. Sri Mustika, MSi.dosen FISIP UHAMKA  dalam kegiatan yang diselenggarakan bersama dengan Lembaga Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (LPPM UHAMKA)

Pada laki-laki pelaku, tambah Mustika, keterangan yang diberikan biasanya atribut, seperti pengangguran, pemabuk, bertato, atau putus sekolah. Dengan demikian pembaca akan memaklumi perbuatannya.” Ungkapnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 5 =