Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir sampaikan rasa terima kasih dan bangganya kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) atas kiprahnya selama 65 tahun lebih sejak berdiri pada tahun 1964 silam.

Hal itu disampikan Haedar dalam Pembukaan Tanwir ke- XIXX IMM yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP IMM), pada Kamis (20/8) melalui daring.

Haedar menyebut peranan IMM dari tingkat pusat sampai komisariat dan seluruh kelompok alumninya telah menorehkan jejak menjadi pelopor, pelangsung, penyempurna gerakan Muhammadiyah. Khsusunya dalam dunia akademik dan dunia kaum mahasiswa yang menjadi fokus pergerakan IMM.

“Jejak ini telah memberi sumbangan besar bagi Muhammadiyah dalam bentuk menghasilkan kader terbaik untuk seluruh struktur lingkungan Muhammadiyah bahkan bersdiaspora menjadi kader umat dan kader bangsa,” kata Haedar.

Dalam Tanwirke-XIXX IMM yang bertemakan “Mengabdi untuk Negeri, Merumuskan Solusi Organisasi di Tengah Pandemi” tersebut, Haedar meminta kader-kader IMM terus meningkatkan kaderisasi yang sistematik dan internsif sehingga kedepan kader IMM selain berdiaspora diberbagai struktur internal dan eksternal tetapi juga memainkan peran strategis bahkan menjadi uswah khasanah. 

“Ketika Muhammadiyah saat ini memasuki abad kedua, maka diperlukan Immawan dan Immawati yang betul-betul siap menjadi kader persyarikatan, umat dan bangsa. Bahkan mampu berperan dikancah global ketika era revolusi modern abad ke-21 dan globalisasi yang niscaya,” harap Haedar.

Untuk itu, kata Haedar kader-kader IMM perlu tiga hal dalam mengemban estafet Muhammadiyah dan menghadapi dinamika global. Pertama, perkokoh, perkuat dan mobilisasi intlektualisme IMM sebagai basis Muhammadiyah kedepan.

Perlu diketahui bahwa Muhammadiyah lahir dengan membawa jejak tadjid didalam pergerakannya. Tajdid Muhammadiyah telah menghadirkan berbagai macam hal modern tetapi berbasis pada nilai-nilai Islam yang kokoh. Sehingga Muhammadiyah kemudian menjadi wakil dan representasi paling depan dari gerakan islam modern terbesar. Bukan hanya di Indonesia bahkan di dunia muslim.

Watak modern atau watak asy’ariyah dari Muhammadiyah ini Haedar menyebut tidak terlepas dari tajdid pendiri Muhammadiyah yaitu Kiai Dahlan. Kiai Dahlan ketika merintis pembaharuannya  sejak tahun 1889 dengan meluruskan arah kiblat dilanjutkan membuat kelas modern pada tahun 1911.

Memulai pembaharuannya diusia usia 20-an, Dahlan muda lahir dari tradisi  Kauman Kraton dan Islam yang saat itu masih tradisional. Kemudian Dahlan pergi dan bermukim di Mekkah disaat kondisi Arab Saudi sedang dalam paham wahabisme yang begitu rupa.

Dahlan muda mampu dan keluar dan mampu belajar sampai pulang ke Indonesia menjadi mujadid, menjadi pembaharu. Diserap seluruh ilmu pembaharuannya dari Ibnu Taimiyah, Abd Wahab, Muhammad Abduh hingga Rasyid Ridha hingga belajar pada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.  Tetapi Dahlan pulang menjadi pembaharu yang punya kekhasan yang berpijak pada bumi Indonesia dengan pendekatan-pendekatan kultural.

Kedua, perlunya kader IMM memahami dakwah kultural Muhammadiyah.Dalam catatan Mukti Ali, Haedar meyebutkan dua hal yang tidak dimiliki oleh para pembaharu sebelumnya tetapi dimiliki oleh Dahlan adalah. Pertama, Kiai Dahlan mampu membangun perangkat-perangkat sosial modern lewat Al-Maun sehingga lahir gerakan filantropi Islam, gerakan pemberdayaan, dan penolong kesengsaraan umum.  Kedua, Kiai Dahlan mampu melahirkan gerakan perempuan ‘Aisyiyah pada tahun 1917 yang  itu tidak dimiliki oleh gerakan pembaharu lainnya. 

“Dengan pendekatan kulturalnya bahkan Kiai Dahlan sempat membolehkan kaum abangan untuk  belajar salat dimulai dengan sebelum dia bisa menggunakan bahasa arab sebagaimana tuntunan salat boleh dengan bahasa jawa. Hal itu tidak membuat kaum abangan waktu itu merasa berat ber-Islam,” kata Haedar. 

Bukti pendekatan kultural Kiai Dahlan yang lain Haedar menyebutkan, sosok Kiai Dahlan juga mampu bergaul dan berdialog dengan siapapun, bahkan Kiai Dahlan membawa dokter-dokter Belanda untuk terlibat dalam poliklinik. Semua itu menunjukkan seorang Kiai Dahlan adalah seorang pembelajar, seorang pembaharu yang inklusif.

“Tentu saat itu tidak bisa dibayangkan bagaimana sosok Dahlan yang lahir dalam kultur tradisional berbingkai dan dekat dengan Kraton tetapi pemikiriannya melampauizaman. Inilah yang oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) disebut pemikiran Dahlan itu bersifat breakdown melampaui dan melompati zamannya,” kata Haedar.

Ketiga, mampu memadukan teks dan konteks. Kiai Dahlan dulu pahami Al-Qur’an lalu kontekskan dengan zaman sehingga melahirkan Islam yang pembaharu. Poin ini kata Haedar yang sering lupa dan terputus dalam grade (kelas) tertentu dari sejarah pergerakan Muhammadiyah olah para kader dan pimpinan Muhammadiyah.

Sehingga yang ditangkap dari pembaharuan Muhammadiyah hanya purifikasi (pemurnian), hanya revivalisme Islam. Bahkan ketika orang mengkaitkan dengan revivalismepun seorang Krozmen misalnya mengatakan revivalisme Dahlan dan Muhammadiyah adalah revivalisme islam yang liberal, yang progresif. Seorang Deliar Noer mengatakan bahwa modern dan gerakan islam modern Muhammadiyah fleksibel, luwes dan moderat ketimbang yang lainnya.

“Inilah yang perlu dipahami, maka kami sejak tahun 2000 mencoba menggali kembali khasanah Kiai Dahlan tanpa harus menjadi Dahlanisme. Tetapi dari pikiran dan generasi awal inilah sesungguhnya Islam dalam konteks pembaharuan selain pemurnian tetapi orientasi utama adalah pembaharuan itu sendiri, “kata Haedar.

Haedar menguraikan, dari khasanah Kiai Dahlan itulah saat ini Muhammadiyah memperkenalkan diri dengan istilah Islam berkemajuan, Islam pencerahan dan Islam yang membangun peradaban atau dinnul hadarah.

“Inilah yang perlu kita pahami agar IMM sebagai mata rantai kaum muda kaum mahasiswa Muhammadiyah  mampu menangkap api pembaharuan Kiai Dahlan sebagai dari intelektualisme Muhammadiyah ditubuh persyarikatan tercinta ini,” pesan Haedar.

Pada kesempatan tersebut Haedar mendorong kader-kader IMM membaca karya dan buku-buku Muhammadiyah dengan lengkap supaya tidak sempit wawasan di dalam menghadirkan Muhammadiyah, khususnya di dalam pemikiran tajdid.

“Disinilah pentingnya bagaimana menghidupkan intelektualisme Muhammadiyah sebagai basis untuk menghidupkan dan merevitalisasi tadjid Muhammadiyah. Disinilah maka Tarjih Muhammadiyah telah membangun mata rantai itu dengan mengedepankan tiga pendekatan di dalam memahami islam yaitu bayani, burhani dan irfani,” pesannya.

Dalam kesempatan yang sama Haedar juga mendorong para kader IMM untuk terus menghidupkan tradisi dialog, tadisi diskusi, tradisiiqro’, tradisi perdebatan intelektual, tradisi membaca kitab-kitab klasik modern dan tradisi untuk bersilang pendapat keilmuan sebagaimana orang menyebut perspektifisme. Yaitu membaca banyak hal dari banyak perspektif bukan hanya dari sudut atau dari sudut perepsktif saja.

“Saya pikir saatnya IMM dan dari rahim kalian inilah sesungguhnya gerakan intelektual Muhammadiyah memperoleh arus baru yang lebih mendalam lebih luas dan melintasi,” kata Haedar. (Andi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − four =