Kwajiban anak yang shaleh terhadap orang tua yang sudah tiada itu tidak hanya mendoakannya.  Namun masih ada kwajiban yang lain yang merupakan perwujudan tanda bakti itu.

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

Sejak beberapa hari ini, saya tiga kali bertakziah ke teman yang ibunya meninggal dunia. Mayoritas orang tua mereka meninggalkan 2-4 orang anak. Sebagai keluarga yang terdidik oleh agama, saya yakin mereka akan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Tetapi, sebelum pulang, saya sempatkan membisikkan kepada teman-teman saya itu, “Jangan lupa melanjutkan kebiasaan baik dan kebaikan-kebaikan ibunya.” Inilah langkah pertama, selain mendoakan kedua orang tua.

Saya pesankan demikian, karena selama ini tugas anak setelah meninggalnya orang tua (kadang) hanya mendoakan saja. Sang anak sering lupa akan kebaikan-kebaikan dan kebiasaan baik apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya selama ini. Dari sisi agama, sebagaimana hadits Nabi SAW, apa yang dilakukan si anak sudahlah benar, karena ia telah menjadi “waladin salih yad’u lahu”, anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.

Kebiasaan baik dan kebaikan-kebaikan orang tua perlu dilanjutkan, karena itu akan menjadi aliran pahala bagi kedua orang tuanya. Tidak jarang terjadi, ada seorang ayah yang selama hidupnya aktif dan tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di masjid, namun anak-anaknya malah jarang, kalau bukan hampir tidak pernah, shalat berjamaah ke masjid. Padahal, masjid tersebut dirintis oleh orang tuanya.

Ada juga orang tua (ayah ibunya) aktif di organisasi kemasyarakat Islam. Keduanya rajin datang ke pengajian, berdakwah, berinfak dan peduli berbagi, tetapi anak-anaknya tidak ada satupun yang meneruskannya. Mereka justru sibuk dengan urusan dunianya. Bahkan, ada yang malah memusuhi organisasi tempat kedua orang tuanya mengabdikan diri kepada Allah.

Hingga di sini, orang tua perlu mewasiatkan kepada anak-anaknya sebelum meninggal agar bersedia meneruskan perjuangan dan aktivitas dakwahnya sesudah keduanya wafat. Sebagaimana Nabi Ya’kub mewasiatkan keimanan kepada putera-puteranya.

            Meneladani kebaikan seseorang, apalagi orang tua, tidak akan mengurangi pahala orang yang meniru, meskipun yang melaksanakan akan mendapatkan pahala yang sama. Sebagaimana sabda Rasulullah,

 من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص ذلك من أوزارهم شيئا خرجه مسلم في صححيه.

“Barangsiapa yang mencontohkan suatu sunnah (teladan perbuatan) yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapat pahala sekaligus pahala orang lain yang mengamalkannya sampai Hari Kiamat. Barangsiapa yang mencontohkan suatu sunnah (teladan perbuatan) yang buruk, maka ia akan mendapat dosa sekaligus dosa orang lain yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Langkah kedua, selain mendoakan kedua orang tua adalah mengingat nasehat-nasehatnya. Nasehat orang tua sama dengan ilmu yang bermanfaat. Jika nasehat atau ilmu yang disampaikan oleh orang tua itu diamalkan dan disampaikan kembali kepada orang lain serta anak cucu kita, maka orang tua kita akan mendapatkan aliran pahala dari ilmu dan nasehat yang telah disampaikan kepada kita.

Langkah ketiga, melanjutkan silaturrahim kedua orang tuanya. Suatu hari, Abdullah bin Umar ra. berpapasan dengan seorang laki-laki Badui di jalanan Makkah. Putera Umar bin Khathab itu lalu mengucapkan salam kepadanya, menaikkannya ke kuda yang tadi ia kendarai dan memakaikan surban yang sebelumnya dipakai Ibnu Umar di kepalanya. Melihat hal tersebut, Ibnu Dinar spontan berujar, “Betapa baik engkau terhadapnya. Semoga Allah membalas kebaikanmu. Ia adalah seorang Badui. Mereka adalah orang-orang yang sederhana.”

Ibnu Umar lalu menjawab, “Sesungguhnya bapak ini adalah sahabat karib ayahku, Umar bin Khathtab, dan aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya perbuatan baik yang paling baik adalah menyambung tali silaturrahmi kepada teman-teman bapaknya sesudah bapaknya meninggal.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, sesungguhnya hadits di atas mengajarkan kepada kita cara berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal. Yaitu, dengan meneruskan silaturahmi orang tua kita kepada sahabat karib dan kerabat dekatnya.

Dalam Tanbihul Ghafilin, Abu Laist as-Samarqandi mengatakan, meneruskan silaturahim orang tua yang telah meninggal dapat memperbaiki kesalahan kita terhadap orang tua yang telah meninggal apabila mereka meninggal dengan tidak ridha terhadap anak-anaknya.

Langkah keempat, menggunakan kekayaan kedua orang tuanya untuk kebaikan. Jangan sekali-sekali digunakan untuk kemaksiatan. Ketika menggunakan harta peninggalan orang tua untuk kebaikan, maka orang tua yang telah berusaha memperolehnya pun akan mendapat aliran pahala perilaku anak-anaknya.

Langkah kelima, selain mendokan kedua orang tua, adalah menggunakan harta kekayaannya untuk kepentingan umat. Jangan karena dianggap sebagai harta warisan, harta itu kemudian digunakan untuk kepentingannya dirinya sendiri. Sisihkan dari harta orang tua itu untuk kepentingan Islam. Meskipun orangnya telah meninggal, tetapi harta itu tetaplah milik orang tua. Inilah yang akan menjadi jariyah bagi yang sudah meninggal. Kita yang memiliki inisiatif untuk mensedekahkan harta peninggalan orang tua juga akan mendapatkan ganjaran dari Allah. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kedua orang tua kita dan menerima segala amal baiknya. Kita yang ditinggalkan mampu melanjutkan kebiasaan baik dan kebaikan-kebaikannya. Amin. Wallahu a’lamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 5 =