Tantangan dunia pendidikan makin hari makin kompleks. Belum selesai satu masalah diselesaikan, muncul masalah baru dan bahkan dalam jumlah serta sebaran yang berlipat; begitu pula, beban dari masalah juga terus mengalami peningkatan.

Kita bisa lihat misalnya, bagaimana masalah pemerataan pendidikan  yang sudah menjadi perhatian sejak awal kemerdekaan bangsa ini. Namun, belum tuntas masalah tersebut, dunia pendidikan sudah harus dihadapkan gelombang industri yang menuntut adanya relevansi. Maka, kurikulum pun terus mengalami perubahan, bahkan hingga sekarang ini. Perubahan kurikulum pun memiliki konsekuensi kepada perubahan orientasi, adaptasi kompetensi para pendidik, media pembelajaran, dan lain-lain. Namun, belum lagi menuntaskan arah kurikulum, gelombang teknologi sudah mendesak pendidikan untuk segera beradaptasi. Pendidikan pun dibuat “kelimpungan”. Adaptasi terhadap perkembangan teknologi tidak hanya masalah sarana ataupun hardware, namun juga mindset dari para civitas pendidikan atau software.  

Munculnya pandemi Covid-19 menghadapkan dunia pendidikan seakan “tak berdaya”. Rangkaian dan pola pembelajaran yang selama ini sudah terbentuk di ruang kelas, kini harus beradaptasi dengan kondisi yang belum jelas sampai kapan. Banyak orang tua khawatir terkait dengan kondisi anak dengan pola pembelajaran daring yang selama ini mungkin tidak pernah terbayangkan.

Pendeknya, tantangan dunia pendidikan datang secara beruntun. Dinamika perubahan di luar sekolah ternyata berjalan lebih cepat. Pendidikan pun tampak “tertatih-tatih” dalam mengikuti irama perubahan tersebut. Akibatnya terjadi gap antara dunia pendidikan dan dinamika perubahan sosio-kultural masyarakat. Belum lagi kesenjangan antara kondisi para guru di satu sisi dan kondisi siswa di sisi lain.  Seperti diketahui, generasi sekarang banyak dipersepsikan sebagai generasi milenial dengan berbagai atribut yang melekat.  Milenial bukan sekedar ciri tentang suatu kondisi jaman yang banyak digerakkan oleh internet, namun milenial kini seakan telah menjadi alat “legitimasi” terhadap suatu perilaku sekalipun perilaku tersebut berseberangan dengan apa yang diajarkan oleh para pendidik.

Dalam konteks tersebut, menarik untuk mencermati apa yang disampaikan oleh Mendikbud. “Saya mengajak seluruh Insan pendidikan untuk menjadikan situasi pandemi ini sebagai laboratorium bersama untuk menemukan solusi serta inovasi-inovasi karena sekarang sudah saatnya kita menata ulang pendidikan,” jelasnya. Salah satu upaya Kemendikbud adalah dengan meningkatkan kompentensi pengajar melalui Program Pembelajaran Berbasis TIK (PembaTIK) yang kini sudah diikuti 60 ribu guru. PembaTIK merupakan program rancangan Pusat Data dan Teknologi Informasi Pendidikan dan Kebudayaan atau Pusdatin Kemendikbud, yang bertujuan untuk mengenalkan teknologi informasi dan komunikasi kepada para pengajar dalam melakukan kegiatan pembelajaran.

Penamaan “PembaTIK” merupakan hal yang menarik. Kita tentu sepakat bahwa tuntutan penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan hal yang urgen dalam kondisi seperi sekarang ini. Keberadaan TIK tidak hanya dalam dunia pendidikan, namun telah merasuk ke berbagai sektor kehidupan. Terlebih bagi generasi milenial, TIK sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Maka, penguasaan TIK bagi para pendidik merupakan keniscayaan.

Namun, pendidikan ternyata tidak hanya penguasaan TIK. Lebih dari itu, pendidikan harus dapat merubah dan mewarnai generasi. TIK adalah sarana, namun pesan yang disampaikan melalui sarana TIK sebagai substansi pendidikan itulah yang lebih urgen diperhatikan. Oleh karena itulah, diperlukan transformasi dari PembaTIK (yang merupakan kepanjangan dari program Kemendikbud di atas) menjadi Pembatik, sebuah peran pendidik dalam dunia pendidikan; bahwa para pendidik pada dasarnya adalah Pembatik, yaitu orang yang membatik (melukis dan mewarnai) generasi masa depan. Mendidik adalah “membatik” generasi sehingga memiliki pola, presisi, makna, nilai, bahkan keindahan di masa depan. Seperti halnya membatik kain, “membatik” pendidikan bukan sekedar untuk menghasilkan nilai ekonomi; namun setiap batik memiliki kedalaman kultural, nilai dan makna yang dikemas dalam pola dan bentuk-bentuk yang presisi. Dari situlah, suatu batik akan memiliki karakter unggul.

Maka, PembaTIK yang dicanangkan Kemendikbud harus menjadi titik pijak bagi penguatan para pendidik sehingga betul-betul menjadi pembatik yang memiliki makna dan karakter yang agung.

 (Abdul Rahman A.Ghani/Wakil Rektor I UHAMKA)

Disclaimer : Artikel ini sudah ditayangkan dalam laman https://www.kabarpendidikan.id dengan judul yang sama

Leave a Reply