In Memoriam Dr. Anjar Nugroho, M.Si. MHi

Anjar Nugroho, Rektor Milenial Yang Begitu Cepat Kembali
Sebagai aktivis IRM saat masuk IAIN juga tetap aktif di IMM. Ia pernah menjadi Ketua Pimpinan Komisariat Syariah, juga pernah menjafi Ketua Koordinator Komisariat (Korkom) IMM IAIN Sunan Kalijaga. Bahkan, dia tinggal Sekretariat Bersama (Sekber) IMM IAIN Sunan Kalijaga di Gendeng
Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

Kemarin, Senin, 14 Desember 2020, saya bertemu dengan Mbah Zawawi –ulama budayawan K.H. D. Zawawi Imran—di sebuah perhelatan akad nikah di Masjid Jamik (Agung) Sumenep. Saya memanggilnya “Mbah”, karena dalam rentetan kekeluargaan beliau adalah sepupu dari Mbah Haji Basri, kakek isteri saya, Arafah. Karena lama tidak ketemu, ceritanya pun cukup gayeng.

Dalam percakapan yang cukup lama itu, Mbah Zawawi Imran bercerita tentang karya terbarunya, yaitu logo UIN Syaifuddin Zuhri Purwokerto. Secara kebetulan, saya kenal baik dengan rektornya, Cak Lutfi Hamidi. Asyik bercerita bersama sang budayawan Si Celurit Emas, saya kemudian menceritakan bahwa saya juga kenal dengan Rektor Universitas Muhamamdiyah Purwokerto yang kebetulan adik kelas di IMM Jogja dulu. Tiada perasaan apapun dan tidak terbersit sedikitpun jika perbincangan tentang Purwokerto ini akan berlanjut hingga di keesokan harinya.

Siapa yang mengira jika di hari Selasa pagi (15/12) akan ada kabar duka yang mengejutkan. Pagi-pagi sekitar pk. 05-an, saya baru dua kali menyeruput kopi jahe-kapulaga khas Sumenep yang cukup menohok. Sambil menunggu panasnya kopi, aku mulai buka grup WA Muhammadiyah Sumenep. “Siapa yang meninggal kok ada ungkapan belasungkawa Inna Lillahi wa inna ilaihi rajiun?” Setelah dibuka, saya tersentak. Saya tidak percaya.

Langsung saja, aku pindah buka grup WA FOKAL IMM Cabang Sleman. Ternyata benar. Mbak Kamilah mengirim berita duka pada pukul 04.47. Bahwa Bapak Rektor UM Purwokerto, Dr. Anjar Nugroho, M.Si. MHi, kembali ke haribaan-Nya pada hari Selasa, 15 Desember 2020, pk. 04.05 di RS Kariadi Semarang karena serangan jantung.

Padahal, sebagaimana yang diinformasikan Mas Irfan, Humas UM Purwokerto, pada hari Selasa ini, Mas Anjar –begitu kalau saya memanggilnya, meskipun saya sendiri biasanya memanggilnya “Anjar” saja, karena beliau adik kelas di IMM—direncanakan akan bertemu dengan Gubernur Jateng dan Pangdam Diponegoro untuk membahas beasiswa keluarga TNI dan warga Jateng. Bahkan, sorenya (Senin maghrib) sebelum berangkat ke Semarang, beliau masih sempat buka puasa bersama ibunya. Sebuah cerminan keseimbangan intelektual dan spiritual yang sangat kuat.

Sudah lama saya tidak bertemu dengan Anjar (ijinkan menyebutnya dengan “Anjar” saja, karena begitulah biasanya). Komunikasi dengannya hanya melalui FB dan sesekali melalui WA. Namun, saya mengenalnya sejak masih kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anjar di Fakultas Syariah, saya di Fakultas Ushuluddin. Yang menjadikan kami berdua cukup saling mengenal adalah karena kami sama-sama aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Saya tahu sejak awal jika Anjar itu aktifis IPM, bahkan di PP IRM saat itu.

Tetapi, agak berbeda dengan beberapa aktifis IRM yang tidak mau aktif di IMM, Anjar tetap mau aktif di IMM. Ia pernah menjadi Pimpinan Komisariat Syariah. Ketika saya menjadi Ketua IMM Cabang Sleman, Anjar menjadi Pimpinan Koordinator Komisariat (Korkom) IMM IAIN Sunan Kalijaga. Bahkan, dia tinggal Sekretariat Bersama (Sekber) IMM IAIN Suka di Gendeng. Tentu saja, interaksi yang terjalin selama beberapa tahun itu yang memberanikan saya menuliskan tentang seorang Anjar Nugroho, sang Rektor Milenial.

Ia ditempa dari perjalanan panjang sebagai seorang aktifis, mulai dari IRM, IMM dan belakangan saya tahu dari FB-nya, terlibat kuat di Hizbul Wathan. Sikap, laku dan ruh ber-Muhammadiyah sudah ada di dalam hati, pikiran perilakunya. Apalagi sekedar ideologi Muhamamdiyah yang kadang hanya disusupkan lewat pengkaderan formal. Setelah itu, kadang keluar lagi tanpa bekas.

Di mata saya, Anjar bukan kader karbitan yang tahu-tahu jadi dosen di Amal Usaha Muhamamdiyah (AUM). Dia bukan orang ”baru saja’ atau “cangkingan” penggede Muhammadiyah untuk dimasukkan ke AUM seperti UM Purwokerto. Namun, ia memang layak dan dibutuhkan oleh AUM dan Muhammadiyah itu sendiri.

Maka, tidaklah mengherankan jika kemudian ia menjadi Pembantu Rektor Kemahasiswaan dan akhirnya menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto di usia yang cukup muda. Saya lebih suka menyebutnya “Rektor Milenial”. Sebab, saat menjadi Pembantu Rektor banyak kegiatan inovatif yang menarik antusiasme kalangan milenial. (Saya kira civitas akademika UMP perlu menuliskan inovasi dan gebrakannya) Sebagai seorang (mantan) aktifis yang mumpuni, ia tentu bisa menjalin kedekatan horizontal dengan mahasiswa dan koleganya. Di samping itu, membangun hubungan vertical dengan stake holder pemangku kepentingan. Saya mengenalnya sebagai aktifis yang lentur menghadapi berbagai lapisan masyarakat.

Saat menjadi aktifis IMM, Anjar adalah sosok yang cerdas dan bijak dalam memberikan solusi setiap masalah yang muncul. Selalu memandang dan mempertimbangkan banyak sisi. Dalam berbicara juga terukur dengan diksi-diksi yang tepat, meski tidak jarang ia juga humoris, suka guyonan dengan ungkapan-ungkapan yang mencairkan. Jadi, meskipun dia seorang anak muda, tapi tidak mudah meluap-luap.

Sang Rektor Milenial ini menjadi menarik untuk dijadikan teladan. Di samping seorang aktifis Muhammadiyah sejati; memiliki kemampuan manajerial yang matang; mampu membangun komunikasi dengan berbagai pihak; dan memiliki sense kedekatan dengan milenial, seorang Anjar Nugroho juga memiliki kemampuan literasi. Saya baru mengetahui gairah kehebatan menulisnya setelah berpisah beberapa tahun. Artinya, ia mampu menggabungkan pelbagai talenta. Tidak banyak orang yang bisa menguasai dan bisa menyempatkan diri untuk menulis, bukan hanya untuk jurnal setaraf scopus tapi juga artikel di berbagai media.

Anjar adalah adik kelas saya. Persis di usia 45 tahun dia kembali ke haribaan Allah. Saya yakin, amanah menjadi rector sesungguhnya bukan jabatan puncak terakhir baginya. Ia masih sangat bisa menjadi lebih dari itu dalam mengabdikan diri di Muhammadiyah. Banyak peran menunggu untuk diemban dan dikembangkan oleh seorang Anjar. Namun, Allah memanggilmu lebih cepat, kawan. Saya yakin bahwa itulah jalan terbaik yang ditetapkan Allah kepadamu. Allah menyayangimu, mengampunimu, menerima amal kebaikanmu yang tak terhingga dan menjaga keluarga dan generasimu. Amin ya Rabb al-‘alamin.

Bahrus Surur-Iyunk, Mantan Ketua IMM Cabang Sleman, pernah aktif di DPD IMM DIY dan DPP IMM.

Sumber : Suara Muhammadiyah

Leave a Reply