Buya Syafii tentang Al-Qur’an dan Tafsir

Oleh: Muhammad Ridha Basri

Kata Buya Syafii di banyak kesempatan, “Kita punya Al-Qur’an kok.” Menurutnya, umat Islam beruntung memiliki kitab rujukan yang tak akan pernah habis dikaji sepanjang masa. Akan selalu ada hal baru, meskipun samudera maknanya ditimba terus-menerus dengan berbagai perspektif. Umat Islam harusnya menjadikan kitab sucinya ini sebagai pemandu.

Dalam artikel di tahun 1990, “Al-Qur’an dan Tantangan Modernitas: Sebuah Pengantar”, Buya Syafii mengutip Abbas Mahmud al-Aqqad yang menyatakan bahwa aliran pemikiran dan ideologi dunia ciptaan manusia akan segera larut bersama larutnya abad ke-20, sedangkan pesan yang ditimba dari Al-Qur’an akan tetap bertahan. Kenyataannya, kata Buya, dunia kini sedang mencari pergantungan spiritual yang kokoh, yang tidak terombang-ambing oleh tarikan materialisme-ateisme yang kasar dan ganas. Persoalannya, “apakah dunia pada akhirnya akan melirik kepada Al-Qur’an sebagai sumber sejati pergantungan spiritual itu?”

“Agama mengajarkan kita supaya optimis. Jangan larut dalam pesimisme,” katanya. Buya mengingatkan bahwa meskipun kondisi dunia sudah sedemikian rusak, kita masih ada harapan. Yaitu mempedomani kembali rangkaian wahyu ilahi yang fungsinya sebagai penunjuk jalan bagi manusia. Kehidupan manusia di dunia adalah untuk mencari jalan kembali kepada-Nya. Ajaran Islam, kata Buya Syafii, sebenarnya mengandung pesan yang luar biasa, namun pemahaman umat Islam terhadap teks ajaran Islam telah membuat mereka mundur ke belakang.

Buya Syafii adalah sosok yang sangat menaruh perhatian pada Al-Qur’an. Dalam sebuah tulisan di rubrik “Bingkai” Suara Muhammadiyah, Haedar Nashir mengisahkan dirinya yang dikirimi pesan oleh Buya Syafii Maarif, sebagai berikut: “Bung Haedar, akan sangat mengilhami, sekiranya para elite Muhammadiyah mau menyimak Tafsir al-Tanwir Suara Muhammadiyah, kaya nuansa, memukau. Maarif.“ Tulisan di rubrik Tafsir At-Tanwir dalam Suara Muhammadiyah ini merupakan naskah awal yang selanjutnya dihimpun dalam Tafsir At-Tanwir, yang jilid pertamanya terbit pertama kali tahun 2016.

Haedar lantas memberi komentar, “Kalimat singkat, tajam, dan mengandung ajakan serius kepada para elite Muhammadiyah dalam kutipan di atas datang dari Buya Syafii Maarif. Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1998-2005 itu sering mengirim SMS jika ada hal-hal penting yang memerlukan perenungan, tanggapan, dan penyikapan. Beliau selalu memberi apresiasi atau penghargaan yang positif manakala ada tulisan para kader Muhammadiyah menggugah kesadaran dan pemikiran untuk maju. Lebih-lebih yang menyangkut kemajuan Muhammadiyah.”

Suatu ketika di Grha Suara Muhammadiyah, saya ditanya oleh Buya Syafii. “Anda sudah baca At-Tanwir ya, itu gimana penafsiran tentang al-maghzub ‘alaihim walazdhallin?” Saya lantas menjelaskan secara ringkas. Kebanyakan tafsir selama ini menafsirkan al-maghzub sebagai orang Yahudi dan al-dhallin sebagai orang Nasrani. Tanpa menunjuk siapa sebagai al-maghzub dan al-dhallinTafsir At-Tanwir menyatakan bahwa siapa pun bisa menjadi golongan tersebut, termasuk umat Islam, ketika perilaku atau karakternya sama seperti kriteria yang dilekatkan kepada al-maghzub dan al-dhallin dalam konteks turunnya al-Qur’an. Ada beberapa kriteria atau karakter pembangkangan dan pengkhianatan Yahudi dan Nasrani di masa nabi, yang jika umat Islam mengulangi perilaku yang sama, maka bisa juga tergolong pada golongan yang dicela dan tersesat.

Mendengar penjelasan sekilas itu, Buya langsung mengapresiasi, “Bagus itu penafsirannya. Selama ini kita selalu menunjuk orang lain (yang salah). Seolah kita tidak pernah salah.” Buya Syafii merasa semacam itu penting bagi umat Islam yang sering menjadikan ayat-ayat tertentu untuk self defense sembari menunjuk-nunjuk orang lain, menganggap dirinya selalu benar dan menyalahkan kelompok lain yang dianggap sebagai biang kekacauan di muka bumi.

Berkali-kali, Buya mengingatkan tentang pentingnya mengevaluasi diri. Dalam suatu rapat, Buya berujar, “Mengoreksi, menertawakan diri sendiri itu penting sekali. Harus ada orang dalam yang mengkritik diri sendiri. Seperti Buya Hamka dan AA Navis yang mengkritik budaya Minang. Ajip Rosidi mengkritik budaya Sunda. WS Rendra mengkritik Jawa dengan istilahnya budaya kasur tua.” Dalam mengkritik diri, nilai atau norma pokok al-Qur’an bisa menjadi acuan. Semisal nilai universal tentang keadilan, kesetaraan, kebaikan, ketakwaan.

Buya Syafii mengingatkan, “Pemahaman kita terhadap wahyu harus terus diperbaharui.” Pemahaman yang keliru tentang Al-Qur’an menjadi salah satu alasan mengapa umat Islam berpecah belah. Buya Syafii sering menggelisahkan betapa jauhnya kesenjangan antara realita perilaku umat Islam dengan idealita yang diwahyukan dalam pesan Al-Qur’an. Semisal ketika Al-Qur’an memerintahkan untuk adil, bersaudara, mendamaikan yang bertikai, tetapi dalam praktiknya umat Islam justru sering bertikai, berlaku otoritarian. Al-Qur’an memberi predikat bahwa umat Islam merupakan khairu ummah, tetapi dalam praktiknya, umat Islam justru tertinggal dan terbelakan, sering kalah dalam perlombaan peradaban.

Khairu ummah menurut Buya Syafii Maarif menghendaki umat Islam untuk menjadi umat yang unggul dan bisa mencurahkan konstribusi positif bagi semua manusia. Hal itu sesuai pesan nabi bahwa sebaik-baik kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam konteks ini, sebaik-baik umat juga adalah umat yang paling bisa bermanfaat bagi kehidupan bersama. Di masa kepemimpinan Buya Syafii Maarif sebagai ketua umum PP Muhammadiyah, Majelis Tarjih Muhammadiyah menerbitkan Tafsir Tematik Al-Qur’an tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama (2000). Dalam tafsir itu, Buya Syafii memberi pengantar, yang salah satu bagiannya:

“Di tengah masyarakat dan bangsa kita yang majemuk, diterbitkannya buku tafsir ini diharapkan dapat mendewasakan kita sebagai umat beragama untuk tetap sebagai bangsa yang bersatu dan sebagai manusia yang sederajat. Perbedaan dan keragaman agama adalah suatu kenyataan yang tidak perlu disesali. Adanya perbedaan dan keragaman agama yang dipeluk oleh penduduk di negeri ini dimungkinkan untuk saling memahami dan membangun kerjasama dalam kebaikan. Jangan sampai perbedaan dan keragaman agama menjadi alasan pemicu konflik.”

Buya Syafii dalam sebuah seminar di UIN Sunan Kalijaga mengucapkan kalimat semisal ini, “Andai saya tidak paham Al-Qu’an sedikit saja, saya sudah malas jadi orang Islam.” Perkataan itu tidak bisa diinterpretasi secara sepihak bahwa Buya Syafii benci Islam. Justru sebaliknya. Ucapan itu lahir sebagai wujud kegelisahan Buya Syafii yang menginginkan umat Islam kembali menggali pesan-pesan Al-Qur’an dan mengimplementasikannya dalam kehidupan yang terus berubah.

Menurut Buya Syafii, membaca teks Al-Qur’an yang statis harus disertai dengan pemahaman dan analisis kritis dalam konteks yang dinamis, disertai dengan pendekatan ilmu sosial humaniora kontemporer. Memahami Al-Qur’an secara kritis dan komprehensif adalah cara menjiwai Al-Qur’an, sehingga selalu menghasilkan hal baru. Nabi hidup dengan samudera kedalaman Al-Qur’an yang terpancar dalam cara berpikir dan berperilaku, lahir dan batin. Menurut Muhammad Al-Ghazali, sikap tiadanya penjiwaan terhadap Al-Qur’an, atau hanya sekadar jadi bacaan keagamaan, adalah merupakan suatu kezaliman terhadap Al-Qur’an.

Kehadiran Al-Qur’an terbukti mampu mengubah peradaban Arab Jahiliyah, dari bangsa biadab menjadi bangsa beradab. Hasil penjiwaan terhadap Al-Qu’ran menjadikan mereka sebagai bangsa yang menerapkan sistem berkeadilan, musyawarah, menolak kezaliman, mencintai perdamaian dan kesetaraan derajat manusia di hadapan Allah, menanggalkan sekat-sekat sektarian, meluruhkan kesombongan, dan seterusnya. Berkat Al-Qur’an, bangsa Arab telah menemukan dunia baru menuju sebuah peradaban yang menempatkan manusia pada sebuah bangunan kemanusiaan yang begitu tinggi.

Quran Surah Al-Maidah (5) ayat 15-16 memberi isyarat, “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” Al-Qur’an dengan wahyu pertama memuat perintah iqra yang menghendaki untuk berpikir, bertadabbur, merenung, merefleksi.

Buya berpandangan bahwa al-Qur’an diturunkan dari Langit untuk kepentingan dan kebaikan semesta. Di kolom Resonansi Republika, 29 November 2016, Buya menulis, “Bagi seorang beriman, Al-Qur’an pasti benar secara mutlak, tetapi tafsiran manusia terhadap ayat-ayat kitab suci ini tidak pernah mencapai posisi serba mutlak itu. Dengan demikian, pihak-pihak yang mencoba memonopoli kebenaran, sama artinya dengan mengambil alih peran Tuhan sebagai sumber kebenaran tertinggi dan sejati.”

Buya menginginkan umat Islam kembali kepada al-Qur’an dengan pemahaman yang kritis dan mampu menggali magza atau makna terdalamnya, sehingga menjadi pemandu dalam kehidupan modern. Di antara tafsir yang sering direkomendasikan Buya Syafii adalah Tafsir Al-Thabari, Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, Tafsir Al-Misbah Quraish Shihab, Tafsir At-Tanwir PP Muhammadiyah, dan seterusnya. Di awal tahun 2020, Buya Syafii baru saja membeli paket Tafsir Al-Thabari yang berjumlah sekian belas jilid. Buya Syafii lantas mengingatkan supaya Suara Muhammadiyah ikut membeli karya tersebut untuk menjadi bahan bacaan dan referensi bagi karyawannya.

Tafsir-tafsir yang direkomendasikan oleh Buya Syafii itu telah dibacanya dengan kritis. Pada 16 Oktober 2020, misalnya, Buya Syafii mengirim pesan ke Najwa Shihab supaya diteruskan kepada Quraish Shihab. Kata Buya yang juga diteruskan ke saya, “Mbak Najwa, mohon sampaikan kepada Pak Quraish berikut ini: jilid ke-15 al-Mishbah, hlm. 702, alinea 2, baris ke-3 dari bawah tertulis Abu Jahal, mungkin yg dimaksud Abu Lahab? Juga hlm. 704, alinea ke-3 dari bawah, baris ke-3 dari bawah, tertulis Abu Jahal mungkin yang dimaksud Abu Lahab. Nuwun. Maarif.”

Suatu saat, Buya meminta bantuan saya untuk menginstal aplikasi Al-Qur’an dan terjemahan bahasa Inggris. Beberapa kali Buya memang kagum dengan karya Muhammad Assad, The Massage of the Qur’an. Secara khusus, Buya Syafii diminta oleh Islamic Renaissance Front Kuala Lumpur untuk menulis kata pengantar atas terjemahan karya Asad ini dalam Bahasa Melayu, yang diberi judul Risalah Al-Qur’an (2014). Di tengah situasi dunia modern yang membawa dehumanisasi, kata Buya Syafii, “menghadirkan seorang Asad dalam perjalanan kerohaniannya yang panjang penuh liku, perlu disegarkan kembali untuk memancing dan mengasah daya nalar kita agar tetap tajam dan lincah.”

Pada 26 Januari 2021, Buya Syafii memberi saran khusus kepada seorang intelektual lulusan Harvard, Sukidi. Buya memintanya untuk menulis sebuah tafsir Qur’an. “Tidak perlu tertalu tebal, cukup setebal Muhammad Asad, The Message of the Qur’an,” katanya melalui pesan WA yang diteruskan ke saya. Buya menjadi parter diskusi yang sangat mengasyikkan bagi Sukidi. Beberapa kali, saya mendapat limpahan terusan percakapan Buya dan Sukidi tentang berbagai tema, terutama tentang metodologi pemaknaan Al-Qur’an.

Dalam sebuah seminar bersama Alissa Wahid di Suara Muhammadiyah pada 11 September 2018, Buya berkata, “Al-Qur’an itu luar biasa, sangat toleran, tapi pemeluknya ya begitu itu.” Lalu, “Qur’an pasti benar, tapi otak Muslim belum tentu benar.” Buya ingin semangat Al-Qur’an hidup dalam masyarakat yang multikultural. Al-Qur’an misalnya mengingatkan bahwa jika Allah berkehendak, maka semua manusia di muka bumi ini diciptakan beriman, tetapi itu tidak dikehendaki oleh Allah (QS Yunus/10: 99).

Sumber : Suara Muhammadiyah

Leave a Reply