PP Muhammadiyah mendorong warga Persyarikatan untuk terus meningkatkan kontribusi bagi bangsa dan umat. Persyarikatan harus bisa menjadi solusi dalam berbagai permasalahan bangsa, termasuk dalam penanganan pandemi Covid-19.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir menyampaikan itu pada penutupan Tanwir II Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah 2021, Ahad (5/9). Tanwir Muhammadiyah-‘Aisyiyah mengangkat tema “Optimis Hadapi Covid-19, Menuju Sukses Muktamar ke-48”.

Haedar dalam pidatonya menyampaikan, setiap warga Persyarikatan harus menjadi sosok uswatun hasanah dengan mengambil peran dalam kehidupan umat dan bangsa. Warga Persyarikatan mesti mengedepankan ikhtiar membangun perdamaian, persatuan, kebaikan, dan memajukan umat serta bangsa. 

“Kita tidak perlu terlalu cemas atas realitas yang berkembang, bahkan kita dituntut memberi kontribusi yang baik sebagai pemberi solusi,” kata Haedar, dikutip dari tayangan Youtube tvMU Channel, Ahad (5/9).

Ia mengatakan, kewajiban ini tecermin dalam Surah al-Hasyr ayat 18. Muhammadiyah pun disebut selalu mengajak kepada semua pihak agar bersama-sama selalu menjaga kerukunan, kebersamaan, dan kesehatan.

Di tengah pandemi yang masih melanda Tanah Air, Haedar tak lupa mengingatkan warga Persyarikatan untuk menjaga imunitas lahir dan batin. Ini agar setiap tugas keumatan dan kebangsaan bisa dijalankan sebaik mungkin. 

“Kita harus menjadi ushwatun hasanah dalam menghadapi pandemi. Selain mengikuti kebijakan pemerintah, kita juga harus menjaga dan disiplin melaksanakan prokes agar pandemi ini semakin melandai bahkan bisa berakhir sesuai dengan ikhtiar dan kuasa Allah SWT,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Haedar turut mengingatkan warga Persyarikatan terkait dinamika yang akan terus berkembang dalam satu tahun ke depan di sekitar Persyarikatan. Dinamika tersebut harus dihadapi dengan semangat musyawarah dan sistem kolektif kolegial. “Persyarikatan kita punya koridor-koridor organisasi dan budaya yang mengedepankan kemajuan, kebaikan, dan kemaslahatan,” ujarnya. 

Haedar juga menyampaikan sejumlah pesan saat membuka Tanwir pada Sabtu (4/9). Ia menekankan pentingnya teologi al-Insyirah untuk dijadikan rujukan dalam menghadapi pandemi Covid-19, termasuk masalah keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal yang selama ini menjadi beban berat kehidupan bersama.

“Inilah yang harus menjadi acuan rasional, moral, spiritual, dan langkah kita untuk menghadapi pandemi ini dengan perspektif epistemologi dan teologi al-Insyirah,” tutur dia.  

Sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Insyirah, kata Haedar, Allah SWT akan meringankan beban hidup dan membuka jalan kesulitan menjadi kemudahan dengan berbekal tekad dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, bersatu, dan optimistis. Usaha mengatasi pandemi merupakan komitmen dan tanggung jawab bersama.

Menurut Haedar, hal itu bisa dilakukan dengan konsisten melaksanakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), termasuk oleh negara. Kemudian, disiplin menjalankan protokol kesehatan, vaksinasi, dan berbagai langkah lain yang merupakan keniscayaan dalam mengatasi pandemi.

Segala ikhtiar yang bersifat rasional-ilmiah dan spiritual-ruhaniyah, lanjut Haedar, harus terus dilakukan sebagai jalan jihad untuk mengakhirinya. “Tentunya dengan sikap bijaksana, rendah hati, dan selalu bermunajat kepada Allah SWT. Allah SWT akan memberikan jalan lapang bagi siapa pun yang bersungguh sungguh dalam berjuang mengatasi masalah kehidupan termasuk pandemi ini,” katanya.

Haedar mengungkapkan, seberat apa pun masalah yang dihadapi, jika semua komponen umat dan bangsa bersatu, maka akan terdapat jalan keluar dari kesulitan. Kuncinya ialah ketulusan, kejujuran, keterpercayaan, kecerdasan, dan kebersamaan untuk selalu mencari solusi.

Perbedaan setajam apa pun, bila semua pihak mau berdialog dan mencari titik temu, akan ada jalan pemecahan atas segala persoalan umat dan bangsa. “Sebaliknya, ketika saling menjauh, egois, tidak saling percaya, saling berebut, keras kepala, khianat, dan dusta bertumbuh di tubuh elite umat dan bangsa, maka sulit menemukan jalan bersama menuju kemajuan umat dan bangsa,” papar Haedar.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, merasa prihatin karena masih ada yang melakukan korupsi di tengah pandemi Covid-19. Dia juga menyayangkan sikap tidak simpatik terhadap situasi sulit di masa pandemi ini.

Padahal, kata Siti, banyak yang terdampak di masa pandemi ini. Dalam hal pendidikan, kalangan perempuan dan keluarga pada umumnya menemui kendala saat mendampingi anak belajar secara daring. Minimnya pembiayaan dan akses menjadi penyebab.

“Dampak sosial Covid-19 juga menimpa anak-anak yang salah satunya, banyak anak Indonesia menjadi yatim piatu karena ditinggalkan oleh orang tua mereka yang terkena dampak Covid,” kata Siti dalam pidato pembukaan tanwir, Sabtu (4/9). 

Siti menyampaikan, ‘Aisyiyah optimistis dalam menghadapi pandemi Covid-19 sebagaimana tema tanwir kali ini. Optimisme harus melahirkan energi positif dan menghilangkan energi negatif dalam jiwa, pikiran, dan tindakan dalam menghadapi kehidupan.

‘Aisyiyah sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, terus bergerak memerangi dan memutus rantai Covid-19 dengan berbagai kegiatan di semua tingkatan. “Pandemi tidak membuat ‘Aisyiyah berhenti menjalankan dakwah dan terus berkontribusi menangani dampak Covid-19,” kata Siti. 

Pelaksanaan muktamar

Tanwir II Muhammadiyah pada 4-5 September menghasilkan keputusan bahwa Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-48 akan dilaksanakan 18-20 November 2022 di Surakarta, Jawa Tengah. 

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, muktamar ke-48 ini akan dilaksanakan secara luring dan daring. Anggota tanwir, ketua pimpinan daerah Muhamamdiyah dan ‘Aisyiyah, menghadiri muktamar secara luring di Surakarta. Anggota yang lain mengikuti secara daring di klaster wilayah masing-masing. Sistem klaster akan diatur lebih lanjut oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Abdul Mu’ti mengatakan, pemilihan anggota PP Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah masa jabatan 2022-2027 akan dilaksanakan dengan cara e-voting. Keamanan, kerahasiaan, serta teknis pelaksanaan akan dijaga dan ditetapkan oleh panitia pemilihan.

“Dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, kesehatan, keselamatan dan kemaslahatan, materi muktamar disampaikan dan dibahas sebelum pelaksanaan muktamar pada 18-20 November 2022 sebagai rangkaian tak terpisahkan,” katanya.  

Pelaksanaan muktamar ke-48 didukung syiar dan silaturahim dengan memanfaatkan media konvensional maupun modern. Selain itu, memanfaatkan sistem teknologi informasi yang menggambarkan kemajuan Muhamamdiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × two =