Sesungguhnya manusia terbatas akan pengetahuannya tentang apa yang akan terjadi esok hari. Peristiwa yang akan terjadi  besok masih misteri buat manusia itu sendiri, tidak terkecuali apakah peristiwa itu nantinya akan sesuai dengan harapan dan keinginannya atau bisa saja sebaliknya tidak sesuai harapan.

Dalam konteks berbuat baik seperti bersedekah, Allah justru memerintahkan kita untuk mempunyai prasangka baik. Niat dan kemampuan  apabila sudah bulat ingin berbuat baik seperti bersedekah maka maka diperintahkan untuk mensegerakan.

Dalam sebuah riwayat seorang soleh dan senantiasa bersedekah dengan apa yang dimilikinya memberikan hikmah terkadang manusia tidak tahu sedkitpun tentang rahasia Allah dari perbuatan baik yang telah diperbuatnya.

Hal ini sesuai dalam sebuah kisah  dan  diriwayatkan sebagai berikut 

Malam pertama, Seorang dermawan  berdoa, Ya Allah saya akan memberikan sedekah dari harta dan rezeki yang saya miliki untuk seseorang yang pertama saya jumpai sekeluar dari rumah malam ini. Malam harinya selepas Isya ia keluar rumah sambil  membawa sedekah yang akan ia berikan dan orang pertama yang ia jumpai adalah seorang laki-laki, kemudian sang dermawan tersebut menghampiri dan  menyerahkan sedekahnya kepada orang itu.

Esok paginya banyak orang membicarakan bahwa ada seorang pencuri telah menerima sedekah dari seorang dermawan. 

Sejak pagi itu hatinya.menjadi galau dan resah kenapa saya memberikan sedekah kepada orang yang tidak sesuai harapan melainkan seorang pencuri yang menerimanya 

Malam kedua, ia kembali berdoa dengan doa yang sama, Ya Allah saya akan memberikan sedekah dari harta dan rezeki yang saya miliki, dalam doanya bergumam; apabila ada orang pertama yang saya jumpai sekeluar rumah malam ini maka saya akan memberikan sedekah kepada orang tersebut.

Selepas Isya ia keluar rumah dan orang pertama yang ia jumpai adalah seorang wanita, maka ia pun menghampiri dan.menyerahkan sedekeahnya kepada wanita itu.

Esok pagi harinya ia dikejutkan berita simpang siur di tengah-tengah  masyarakat, bahwa tadi malam ada seorang pelacur menerima sedekah dari seorang dermawan.

Sejak pagi itu hatinya menjadi galau dan resah kenapa saya memberikan sedekah kepada orang yang tidak sesuai keinginannya melainkan seorang pelacur dan pezinah.

Pada malam ketiga pun ia berdoa dengan doa yang sama dan berharap sedekahnya kali ini akan diberikan kepada orang yang tepat dan sesuai dengan keinginannya.

Selepas Isya ia keluar rumah dan orang pertama ia jumpai adalah seorang laki-laki yang berbeda, lalu ia menghampiri dan menyerahkan sedekahnya kepada orang itu 

Esok pagi harinya ia dikejutkan kembali dengan berita yang hampir sama namun ternyata sedekah yang telah ia berikan diterima oleh seorang laki-laki kaya.

Penyeselan dan galau ia rasakan kembali berkecamu dalam hatinya mengapa setiap sedekah yang ia berikan kepada  orang selalu tidak sesuai dengan keinginan dan harapan yakni untuk orang yang dalam keadaan sulit dilihat dari  kasat mata.

Pada malam keempat sang dermawan dalam tidurnyya bermimpi berjumpa dengan malaikat utusan Allah  memberitahu kepada Sang Dermawan perihal atas apa yang ia telah sedekahkan, 

Malaikat berkata dalam mimpinya, sesungguhnya atas apa yang telah engkau sedekahkan 3 hari berturut-turut telah diterima pahalanya oleh Allah dan telah memberi kebaikan hikmah kepada 3 orang penerima tersebut.

Hikmah sedekah pada malam pertama yang engkau berikan kepada pencuri menjadikannya orang tersebut  tidak jadi melakukan pencurian di malam itu (menolong dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar)

Hikmah dari sedekah malam kedua yang engkau berikan kepada seorang pelacur sesungguhnya menjadikan dirinya tidak terjadi perbuatan  zinah menjual badannya pada malam itu (menolong dan mencegah dari perbuatan keji dan munkar)

Dan sedekah pada malam ketiga kepada seorang kaya kikir telah menjadikan ia malu dan telah menyadarkannya bahwa harta yang ia miliki merupakan titipan dari Allah dan pada akhirnya akan habis dimakan waktu,   sejak itu si orang kaya kikir tersebut  menjadi orang kaya yang dermawan terkenal di jazirahnya, (memberikan maslahah atau manfaat)

Semoga kisah ini dapat menginspirasi kita bahwa dalam berbuat baik  sebaiknya jangan semata-mata berdasarkan akal pemikiran, berpransaka baik kepada manusia dan Allah semata, dan jangan sekali-kali memikirkan hasil dari perbuatan baik yang kita telah kerjakan karena itu masih menjadi rahasia Allah.

Sesungguhnya dibalik setiap kebaikan yang kita  perbuat pasti ada hikmahnya, karena amal kebaikan itulah yang abadi yang akan sampai kepada Allah,  sebagai manusia yang bertaqwa dan juga bermanfaat bagi manusia serta makhluk lainnya.

Sebagaimana sedekah dan infaq dalam Quran surat Al Baqarah ayat 276 yang berbunyi

 يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ اَثِيْمٍ

Artinya: Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.

Penulis: Deni Nuryadin  Dosen Ekonomi Islam FEB UHAMKA dan Relawan BAZNAS Pusat

Leave a Reply