Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus mendorong upaya pengembangan kualitas generasi muda masa kini maupun masa depan melalui anggaran Dana Abadi Pendidikan senilai Rp 81,7 T.

Dalam webinar Pembekalan bagi Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP, Rabu (29/9), Menkeu Sri Mulyani mengatakan, salah satu yang menikmati anggaran tersebut adalah penerima Beasiswa LPDP.

“Saat ini kita (pemerintah) telah memiliki Rp 81,7 triliun (untuk Dana Abadi Pendidikan). Bahkan jika ditambah dari anggaran penelitian, perguruan tinggi dan anggaran abadi bidang kebudayaan, total anggaran sudah mencapai Rp 90 triliun,” katanya seperti dikutip dari kanal LPDP RI (30/9).

Sri Mulyani mengungkapkan dulu LPDP hanya untuk beasiswa yang mayoritas ke perguruan tinggi di luar negeri serta perguruan tinggi dalam negeri yang dikelola di bawah Kemendikbud Ristek.

Namun sekarang dana tersebut juga digunakan untuk membiayai penelitian termasuk penelitian dalam rangka COVID-19 untuk mendapatkan vaksin hingga program merdeka belajar.

“Kita juga memberikan afirmasi, ada kelompok pesantren, ada juga dari ASN, TNI, POLRI selain dosen,” terang Sri Mulyani.

Penerima LPDP ‘berutang’ pada negara

Dalam kesempatan tersebut, Sri Mulyani juga berpesan kepada penerima beasiswa LPDP untuk menyadari bahwa mereka dibiayai oleh negara. Sehingga mereka harus bisa berkontribusi memajukan Indonesia seperti menciptakan prestasi dan reputasi yang baik.

“Kalian berutang kepada negara kita. Utang tidak selalu dibayar dengan uang. Utang dibayar dengan prestasi, reputasi dan bahkan nanti cara berkontribusi terhadap Republik Indonesia,” tegasnya.

Menurutnya salah satu kontribusi yang dapat dilakukan penerima beasiswa LPDP bisa dengan membantu Indonesia dalam menghadapi tantangan. Misalnya mengeluarkan Indonesia dari status middle income country menjadi high income country.

Penerima beasiswa LPDP memiliki tugas mendukung pemerintah dalam upaya mengeluarkan Indonesia dari middle income trap. Hal itu dikarenakan penerima beasiswa LPDP termasuk ke dalam syarat dari adanya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas hasil reformasi pendidikan.

Kesempatan yang harus dimanfaatkan

Sri Mulyani menambahkan bahwa penerima beasiswa LPDP memiliki keberuntungan dan kesempatan yang tidak didapatkan banyak anak-anak sekolah di Indonesia.

Karena mayoritas anak Indonesia masih ada mengalami stunting problem atau masalah kurang gizi. Bahkan ada yang masih hanya lulusan SD atau SMP dan tidak mampu melanjutkan ke tingkat SMA.

“Banyak yang tidak mampu meneruskan ke perguruan tinggi. Kalau jumlah yang meneruskan perguruan tinggi hanya 8,5 persen that is that small atau sangat kecil,” paparnya.

Untuk penerima yang sedang belajar di dalam maupun luar negeri Sri Mulyani berpesan untuk mempelajari negara tempat mereka belajar. Baik secara pengelolaan pendidikan, hasil pendidikan, dan lainnya.

“Ini akan memberikan pengetahuan, punya keinginan untuk belajar tidak hanya belajar saat kuliah tapi peka terhadap kondisi sosial bahkan politik di tempat anda berasal. Jangan menjadi komentator tapi bandingkan dengan Indonesia. Just study dan learn,” tuturnya.



Leave a Reply