Agenda akbar pada tulisan ini adalah melakukan gugatan terhadap trilogi yang dipakai oleh IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Hal itu tergambar jelas melalui penggalan judul yang dipilih. Isi daripada tulisan ini akan coba menguraikan mengapa trilogi yang diyakini oleh IMM secara turun-temurun ini perlu untuk dikritik dan pada tahap selanjutnya harus didekonstruksi.

Bisakah Mengubah Trilogi?

Mula-mula, penulis akan coba menjawab pertanyaan paling krusial ini. Sebab pertanyaan ini tentu mau tak mau akan hinggap pada benak kader-kader IMM kala membaca gugatan terhadap trilogi IMM. Jawaban ini harus dihadirkan bagi mereka yang mungkin merasa dan berpendapat bahwa trilogi IMM adalah barang yang sakral dan tidak dapat diganggu gugat.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis kira ada satu hal yang harus kita terangkan dan sepakati bersama. Pertama, apakah trilogi IMM adalah hal yang sakral, prinsipil dan karenanya tak dapat diubah? Atau, ia sama halnya dengan sebuah gagasan pada umumnya yang perlu untuk diperdebatkan, dipertengkarkan dan jika perlu diubah? Kedua, jawaban yang kita pilih akan menentukan cara kita memperlakukan trilogi ikatan yang terdiri dalam bentuk hirearki iman, ilmu dan amal.

Terhadap pertanyaan pertama, rasa-rasanya sangat tidak mungkin bagi kita untuk memilih menganggap bahwa trilogi IMM adalah hal yang sakral. Sebab sebagai seorang muslim, tentu suatu kesalahan yang sangat fatal jika kita menganggap ada sesuatu yang sakral di luar al-Quran dan sunnah. Sebuah gagasan, selama ia berasal dan diproduksi oleh manusia, harus dianggap sebagai gagasan biasa yang tak bebas dari kesalahan. Karena itu penting bagi kita untuk membedahnya, memperdebatkannya dan mengkritiknya. Tidak boleh ada gagasan di luar al-Quran dan sunnah yang kebal kritik.

Menghidupkan Semangat Tajdid
Dan pada hakikatnya penempatan trilogi IMM yang didahului oleh iman dan kemudian dilanjutkan oleh ilmu dan amal hanyalah persoalan numerik atau penomoran. Artinya ia bebas untuk ditempatkan di mana saja. Bergantung pada alasan dan landasan yang diajukan.


Atas dasar itulah maka urutan trilogi bisa diubah. Kita bisa mengubahnya dari iman, ilmu dan amal menuju ilmu, iman, dan amal. Kita dapat meng-qiyas-kan persoalan ini pada masalah urutan surah dalam al-Quran. Urutan surah al-Quran yang dimulai dari al-Fatihah, al-Baqarah, Ali Imran, an-NIsa dan seterusnya bukanlah hal yang tidak boleh diubah. Kita dapat saja menaruh al-Fatihah menjadi surah yang paling belakang dan an-Nas ditaruh paling pertama. Sebab tidak ada ketentuan yang kuat dari Nabi bahwa suatu surah harus ditaruh di tempat tertentu dan surah yang lain ditaruh di tempat tertentu. Penentuan urutan surah-surah tersebut baru ditentukan di zaman Khalifah Utsman bin Affan ketika terjadi kodifikasi terhadap al-Quran (Taufik Adnan Amal: Rekonstruksi Sejarah Al-Quran, h. 235).


Semangat untuk mengubah hirearki trilogi IMM seyogyanya sejalan dengan semangat tajdid yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Sebab tajdid mengandaikan dinamisasi gagasan dan gerakan. Kektika kita memiliki stagnan dan mandek, maka pada dasarnya kita telah mengingkari spirit tajdid Muhammadiyah yang harusnya juga menjadi spirit bagi organisasi-organisasi di bawah naungannya (baca: ortom).
Mengapa Trilogi Perlu Diubah


Selama ini, trilogi ikatan yang kita pegang memiliki hirearki yang menempatkan iman sebagai tingkatan paling pertama, lalu disusul oleh ilmu dan amal. Bagi penulis, penempatan itu tidak tepat dan harus kita ubah. Hirearki yang demikian cukup rancu. Sebab kita seolah-olah mengandaikan bahwa ada keimanan yang mendahului pengetahuan.
Keyakinan terhadap Tuhan misalnya. Kita sangat tidak mungkin langsung percaya tentang akan keberadaan atau wujud Tuhan tanpa terdahulu memiliki gambaran atau konsepsi tentang Tuhan. Kita pasti punya gambaran (tashawwur) dan konsep lebih dulu, baru kemudian percaya pada Tuhan (Muhammad Nuruddin: Ilmu Mantik, h. 47). Dan ketika berbicara konsep, tentu kita akan berbicara ilmu atau pengetahuan. Artinya keimanan kita terhadap Tuhan selalu lebih dulu dimulai dan digerakkan oleh pengetahuan dan ilmu yang kita miliki tentang Tuhan. Di sinilah letak bersamalahnya trilogi IMM saat ini. Ia menempatkan iman sebelum ilmu. Padahal yang seharusnya adalah sebaliknya.
Landasan Qur’ani


Ada beberapa ayat al-Quran yang menjadi landasan bagi perubahan trilogi IMM dari iman, ilmu dan amal menjadi ilmu, iman dan amal. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:


Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra [17]: 36)

Maka ketahuilah (dengan ilmu), bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu. (QS. Muhammad [47]: 19)


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)


Ayat pertama dengan sangat jelas dan terang mewanti-wanti dan melarang kita agar tidak mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Begitupun dengan ayat kedua, dalam masalah ketuhanan pun ia menekankan akan keharusan pengetahuan. Keharusan pengetahuan itu bahkan dijadikan syarat untuk menyatakan dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Lebih-lebih ayat terakhir, yaitu surah al-‘Alaq. Untuk sampai pada pengetahuan bahwa Allah adalah Sang Pencipta, ia memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca. Karena dengannya ia (Muhammad) akan mendapatkan wawasan atau pengetahuan. Dalam hal ini, pengetahuan adalah tangga menuju keimanan yang kokoh.

Berhentikan Doktrin, Dahulukan Dialektika

Kita sudah seharusnya memberhentikan pola indoktrinasi. Apa yang ditunjukkan dalam hirearki trilogi IMM saat ini (iman, ilmu dan amal) adalah bentuk daripada indoktrinasi. Kita adalah mahasiswa, bukan anak SD. Kita tidak bisa lagi mempertahankan pola indoktrinasi yang diterapkan dalam trilogi lama, kita sudah harus menuju trilogi baru, yakni ilmu, iman dan amal, trilogi mendahulukan dialektika atas indoktrinasi.

Imam Al-Ghazali membagi tingkatan manusia menjadi tiga: awam, khawas, dan khawas al-khawas. Mahasiswa berada pada tingkat pada khawas. Ia bukanlah orang awam yang harus didoktrin. Orang-orang yang berada di tingkatan khawas adalah mereka yang senantiasa mendasarkan dirinya pada ilmu. Dan hal ini sejalan dengan karakter mahasiswa. Sebab mahasiswa adalah mereka yang berpikir secara epistimologis. Berpikir secara epistimologis ditandai dengan argumentasi dan tolak ukur sesuatu disebut argumentasi ketika ia menawarkan rasionalitas.

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan bagi mahasiswa atau kader-kader IMM untuk mempertahankan trilogi lama. Hirearki trilogi itu sudah harus diubah seiring dengan meningkatnya kesadaran yang bertumpu pada argumen bahwa pengetahuan selalu mendahului keyakinan.

Sumber : Tanwir.Id

Leave a Reply