Tiap daerah di indonesia yang memiliki potensi dan karakteristik yang beragam, membuat implementasi program Merdeka Belajar dapat bersifat unik pada masing-masing daerah. Sejumlah daerah mengimplementasikan Merdeka Belajar dengan mengoptimalkan potensi daerahnya untuk mengatasi kendala yang ada.

Di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah, semangat gotong royong masyarakatnya dan kerja sama dengan sektor swasta dijadikan kekuatan untuk mengimplementasikan Merdeka Belajar dan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. “Di Kabupaten Kapuas, kami mendorong kolaborasi dengan komunitas guru penggerak, gerakan kepramukaan, organisasi keagamaan, dan perusahaan-perusahaan pertambangan, kelapa sawit untuk turut berkontribusi terhadap dunia pendidikan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kapuas, Suwarno Muriyat, dalam acara webinar Ngobrol Pintar (Ngopi), Senin (25/10/2021). Acara Ngobrol Pintar ini terselenggara atas inisiasi Direktorat Sekolah Dasar dengan menghadirkan para kepala dinas pendidikan sebagai narasumber untuk saling berbagi.

Kondisi sarana dan prasarana sekolah di Kabupaten Kapuas sangat heterogen, membuat pemerintah daerah Kapuas sering kali membuat kebijakan khusus untuk daerah-daerah yang sulit infrastrukturnya. “Faktor terberat mungkin faktor alam, karena ada beberapa daerah yang blank spot, tidak ada sinyal. Tetapi kami sudah berusaha misalnya untuk menggunakan handy talkie dalam pembelajarannya,” kata Suwarno Muriyat.

Suwarno mengapresiasi program-program yang diluncurkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Dari berbagai program Kemendikbudristek, Kabupaten Kapuas memiliki 18 Sekolah Penggerak, 26 Guru Penggerak untuk angkatan 1 dan 26 Guru Penggerak untuk angkatan 2, dan 12 Sekolah Organisasi Penggerak. ”Saya sangat senang sekali dengan program Merdeka Belajar karena sangat membantu sekolah-sekolah yang akreditasinya rendah dan bisa digitalisasi sistem pembelajaran,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kapuas.

Suwarno Muriyat menambahkan, pihaknya juga memikirkan sekolah-sekolah yang masih tertinggal di daerahnya. Pemerintah memberikan insentif tambahan kepada guru-guru di daerah terpencil. Selain itu pihaknya mendorong perusahaan-perusahaan untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan kepada para guru di daerah terpencil dan tertinggal.

Di Kabupaten Banyuasin Sumatra Selatan, dinas pendidikan bersinergi dengan gerakan masyarakat yang digagas Pemerintah Daerah. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin, Aminuddin, mengatakan gerakan masyarakat seperti Gerakan Mencari Amal, Gerakan Gotong Royong, Gerakan Tanam Sayur, dan lain-lain dimanfaatkan sebagai kekuatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Banyuasin.

Aminuddin menambahkan, salah satu strategi yang dilakukan untuk pemerataan kualitas pendidikan adalah membuat satu sumber belajar di tiap kecamatan. “Kami akan manfaatkan komite pembelajaran di sekolah yang ada di sekolah penggerak sekarang ini akan kami jadikan contoh dan bisa menjadi pembelajaran paradigma baru,” ujar Aminuddin.

Ke depan, dan saat ini sudah disiapkan Surat Keputusan Bupati, ada 21 sekolah yang disebut Sekolah Pusat Sumber Belajar. “Sekolah ini tujuannya untuk meningkatkan SDM pendidik kita. Ada 14 sekolah yang termasuk dalam sekolah penggerak angkatan 1. Setelah kami amati, ada perubahan mindset guru-guru dan tetap semangat untuk belajar menggunakan teknologi seperti yang dicanangkan oleh Mendikbudristek,” kata Kadisdik Banyuasin.

Sekolah Pusat Sumber Belajar  ini merupakan implementasi dari Sekolah Penggerak. “Dari 21 pusat sumber belajar yg kami bangun di Banyuasin, itu ada sekolah penggerak. Bagaimana kita mendorong sekolah-sekolah untuk menjadi sekolah penggerak, kami dorong untuk ikut melakukan pendaftaran walaupun belum signifikan. Oleh karena itu pusat sumber belajar ini merupakan salah satu upaya kami untuk mengajak sekolah-sekolah dalam rangka pelaksanaan kurikulum sekolah penggerak,” kata Aminuddin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 8 =