Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi), terus mendukung implementasi program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM), sebagai salah satu kebijakan yang bertujuan mendorong mahasiswa  menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja.

Salah satunya adalah dengan membuka kesempatan bagi mahasiswa Indonesia magang/parktik kerja di perusahaan di Hungaria, yaitu Gémtech, Ltd, Bio Fungi, dan Markija. “Kita mendorong anak-anak vokasi bisa (perform) ke level internasional,” tutur Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Wikan Sakarinto dalam sambutannya dalam acara yang digelar secara hibrida itu di Gedung E, Lantai 6, Kantor Kemendikbudristek, Senayan, Jakarta, Selasa (26/10).

Fokus dari program merdeka belajar adalah pada capaian pembelajaran (learning outcomes). Sebab, kurikulum pendidikan tinggi pada dasarnya bukan sekedar kumpulan mata kuliah, tetapi merupakan rancangan serangkaian proses pendidikan/pembelajaran untuk menghasilkan suatu capaian pembelajaran (learning outcomes). “Anak-anak vokasi harus memiliki pengalaman bekerja tidak hanya di tingkat nasional namun juga internasional yang mencakup kompetensi nonteknis (soft skills), kompetensi teknis (hard skills), kepemimpinan (leadership), sikap (attitude),” tutur Wikan.

“Kalian harus punya kesenangan (passion) terhadap aktivitas studi kalian karena dengan begitu visi kalian dibentuk dari passion,” imbuh Wikan seraya menekankan bahwa para peserta magang ke luar negeri memiliki tanggung jawab untuk membuktikan kompetensi, daya saing, dan kemandiriannya.

Lebih lanjut, Ketua Persatuan Insiyur Indonesia (PII), Heru Dewanto mengatakan, program magang ini memiliki dua pondasi. Pertama adalah pondasi hukum ekonomi, yakni pasokan dan permintaan (supply and demand). “Ada permintaan dari Hungaria karena negara tersebut sedang berkembang dan membutuhkan tenaga vokasi. Di sisi lain, di Indonesia, pendidikan vokasi sedang digalakkan,” katanya.

Kedua, pondasi akademik. Program ini adalah bagian dari bidang politeknik, pengalaman kerja magang di Hungaria selama 1-2 semester adalah bagian dari SKS baik di politeknik maupun sekolah vokasi. “Jadi anda-anda tidak hilang waktunya untuk bekerja melainkan dengan bekerja (magang) di sana, akan mendapat SKS dari sekolah Anda,” jabarnya.

Saat ini ada 10 perusahaan lagi dari Hungaria yang membutuhkan sekitar 20-30 kebutuhan pemagang dari Indonesia. Artinya, sekitar 200-300 rencananya akan diberangkatkan kembali untuk tahap selanjutnya. Oleh karena itu, Heru berpesan agar para peserta memanfaatkan peluang ini untuk menunjukkan kompetensi, sikap kerja, dan moral yang terbaik. Menurutnya, ini adalah kesempatan untuk mengenal industri berskala internasional.

“Anda mewakili nama Indonesia, Anda semua pionir/pelopor dan akan menjadi wajah Indonesia. Jika  kalian bekerja dengan baik, maka program ini akan bergulir kepada adik-adik kelas kalian,” tegasnya.

Terdapat 50 orang peserta yang terpilih untuk mengikuti program magang di Hungaria. Mereka berasal dari Politeknik Negeri Batam, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Politeknik Negeri Bali, Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, Politeknik Manukfatur Astra, Sekolah Vokasi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Politeknik Negeri Batam, Universitas Hasanuddin, Politeknik Negeri Sriwijaya, Institut Teknologi Nasional, Politeknik Negeri Lampung, Institut Pertanian Bogor (D3), Institut Teknologi Yogyakarta (S1), Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Lampung.

Direktur Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi (PTVP), Kemendikbudristek, Beny Bandanadjaja menyampaikan dukungannya kepada para peserta magang yang akan berangkat ke Hungaria. Kegiatan ini dapat terlaksana berkat kerja sama Persatuan Insiyur Indonesia (PII). Kita berharap ada manfaat yang besar untuk mahasiswa,” ujarnya. Adapun pemberangkatan peserta akan dilakukan secara bertahap. Proses keberangkatan didampingi oleh perwakilan dari Kemendikbudristek.

Sekilas tentang Dua Perusahaan Magang di Hungaria

Gepeszeti Mernoki Technologiai yang disingkat Gémtech, Ltd merupakan perusahaan Hongaria produsen struktur baja dan mesin yang berkembang pesat di Eropa Tengah, berlokasi di Napkor, Hungaria. CEO Gémtech Péter Nagy mengatakan, perusahaan ini menggunakan teknologi terkini dengan standar kualitas produk dan keamanan kerja yang tinggi. “Kami didukung pengalaman yang luas dalam produksi produk derek dan jembatan. Kesempatan magang di perusahan Gemtech disediakan untuk: 5 Welders, 5 Fitters, dan 20 Experienced Fitters,” jelasnya.

Sementara itu, perusahaan lainnya yakni Bio Fungi. Perusahaan ini adalah esportir jamur berskala internasional terbesar di Kawasan Eropa Tengah dan Timur. Bio Fungi sudah berdiri sejak 1992 dan bergerak di bidang budidaya jamur dan produksi kompos jamur yang menggunakan teknologi terbaru dan prosedur jaminan kualitas. Berlokasi di Áporka dan Òcsa, Hungaria, perusahaan ini memproduksi 2.500 ton kompos jamur dan 130-150 ton jamur setiap minggu, di mana 70% di antaranya dijual di pasar internasional. Kesempatan magang di Perusahaan Bio-Fungi tersedia untuk 15 Mushroom Pickers dan 5 Compost Production Workers.

“Kami bersyukur memiliki kesempatan kedatangan pemagang asal Indonesia. Kami menawarkan pengetahuan dan pengalaman untuk kalian akan bertambah ketika kalian sampai di sini. Hal ini akan membuat proses belajar kalian semakin berkembang. Jajaran kami menantikan kedatangan dan kerja sama dengan kalian,” ujar CEO Bio Fungi, Csongor Hunyar dihadapan para peserta.

Berikutnya, Bence Schomatovich, perwakilan dari Markija mengatakan, “Tujuan kami memberikan kesempatan kerja di Eropa yang akan meningkatkan pengetahuan profesional dan keahlian internasional tenaga kerja Indonesia. Kami bekerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Politeknik dan Sekolah Vokasi di Indonesia, dan sebagian besar program kami memberikan kredit akademik tambahan dan dapat menghasilkan gelar atau lisensi Indonesia yang lebih tinggi, selagi juga memberikan sertifikasi dan rekomendasi Internasional.”

Markija Berdaya Bersama memiliki tujuan utama untuk memberdayakan pekerja dan profesional muda Indonesia dengan memberikan mereka kesempatan untuk belajar dan bekerja di Eropa dengan memastikan kondisi belajar, bekerja dan hidup sesuai dengan standar tinggi. “Program magang ini sangat menarik. Kami menunggu partisipasi para peserta. Saya yakin kalian akan menikmati waktu kalian di Hungaria. Terima kasih atas kerja samanya dengan berbagai pihak terutama Kemendikbudristek. Kami menantikan kerja samanya (dengan peserta magang),” kata Bence Schomatovich.

Perwakilan peserta magang yang hadir pada kesempatan ini terlihat antusias. Salah satumnya, Chrisna asal ITS. “Mari kita buktikan bahwa lulusan vokasi bisa. Kita patahkan stigma negatif terhadap lulusan vokasi. Kita adalah lulusan yang dibekali bukan hanya teori tapi skills yang mumpuni,” ujar Chrisna yang terpilih sebagai experienced fitter itu.

Berikutnya, Insiyatul dari IPB menyampaikan bahwa dengan mengikuti magang, peserta akan mendapat ilmu dan pengalaman yang belum tentu ada di tempat lain. Dan hal tersebut akan berguna sepanjang karir peserta. “Kita akan menambah relasi dan saat nanti di Hungaria, kita bisa menambah teman. Bisa meningkatkan portofolio kita.  Dan saat kembali, kita bisa berkontribusi untuk pertanian khususnya perjamuran dan mendapat kesempatan baik lainnya di masa depan,” ungkapnya yang magang sebagai mushroom picker itu.

“Saya harap kalian paham masa depan kalian jadi apa. Ini adalah ikhtiar kalian untuk meraih cita-cita terutama untuk melihat kesempatan besar, visi besar tentang kemaslahatan dunia, serta filosofi pengembangan dunia,” ucap Dirjen Wikan mengakhiri sambutan.  

Senada dengan itu, Heru Dewanto menyampaikan bahwa tujuan program ini adalah agar pendikan vokasi meningkat kualitasnya, meningkat jumlah peminatnya, dan diksi menjadi pendidikan alternatif di dunia pendidikan di Indonesia. “Saya yakin, kalian (pemagang) setelah pulang ke sini akan menjadi manusia yang lebih baik dari segi pengetahuan, sikap (attitude), dan wawasan,” pungkasnya optimistis.

Leave a Reply