Bicara soal pendidikan di Indonesia, tidak dapat lepas dari pemikiran dan perjuangan KH Ahmad Dahlan. Bahkan, ada sekolah atau madrasah yang dirintis KH Ahmad Dahlan menggunakan kurikulum integralistik, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) pada 1 Desember 1911 di Kauman, Yogyakarta.
Kurikulum integralistik yang dimaksud adalah kurikulum yang menyintesis antara metode pendidikan modern barat dengan pendidikan tradisional.

KH Ahmad Dahlan mempelajari substansi pendidikan modern Belanda, untuk kemudian mempraktikkannya ke sekolah yang didirikannya dan madrasah-madrasah tradisional.

Setelah diresmikan, sekolah MIDI pun berhasil menaungi 29 siswa. Hingga enam bulan kemudian, jumlah siswa dilaporkan bertambah secara signifikan dengan jumlah 62 siswa.

Tidak dilaksanakan di surau seperti ciri umum kegiatan Islam pada waktu itu, kegiatan sekolah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan ini bermula dilakukan di ruang tamu rumahnya. Sebagaimana dikutip dari laman Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.

“Tonggak awal berdiri sekolah Muhammadiyah pada saat K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923) merintis dan membuka Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI), pada tanggal 1 Desember 1911 di ruang tamu rumah beliau,” tulis Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah.

Sekolah MIDI rintisan KH Ahmad Dahlan pun menggunakan meja, kursi, dan papan tulis dalam pembelajarannya, sebagai hasil dari pengadopsian substansi dan metodologi pendidikan modern barat yang dilakukannya.

Sementara itu, untuk materi pelajaran sesuai dengan kurikulum integralistik, para siswa diberikan materi agama yang biasa diajarkan di pesantren dan materi umum yang biasa diajarkan di sekolah Belanda.

Pada waktu itu anak-anak Kauman masih merasa asing pada pelajaran dengan sistem sekolah. Dia mengadakan modernisasi dalam bidang pendidikan Islam, dari sistem pondok yang hanya diajar secara perorangan menjadi secara kelas dan ditambah dengan pelajaran pengetahuan umum,” tulis Yusron Asrofi dalam buku Kyai Haji Ahmad Dahlan: Pemikiran dan Kepemimpinannya.

Latar Belakang Pendirian Sekolah dengan Kurikulum Integralistik

Bermula dari KH Ahmad Dahlan yang bergabung dengan keanggotaan Budi Utomo. Selama menjadi pengurus di sana, beliau mendapat kenalan guru dari sekolah Belanda, Kweekschool Jetis yaitu R. Budiharjo dan R. Sosrosugondo.

Melalui keduanya itu pula, KH Ahmad Dahlan mendapat kesempatan untuk mengajar agama Islam di sana. Setelah sebelumnya, kepala sekolah setuju dan memberikan izin padanya. Penjelasan mengenai pembelajaran agama Islam di sana dapat disimak dalam laman Fakultas MIPA dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Riau

Pelajaran agama Islam di sekolah guru milik pemerintah itu diberikan di luar jam pelajaran resmi, yang biasanya dilakukan pada setiap hari Sabtu sore. Dahlan mengajarkan pengetahuan agama Islam secara umum maupun membaca Quran,” tulis Universitas Muhammadiyah Riau.

Berkat pengajaran menarik yang dibawakan beliau, sejumlah siswa merasa waktu pengajaran di Sabtu sore belum cukup. Sebagian dari mereka, termasuk yang belum memeluk agama Islam, sering mengunjungi rumah KH Ahmad Dahlan pada hari Minggunya.

Ternyata, hal ini pula yang menjadi salah satu landasan KH Ahmad Dahlan merintis sebuah sekolah dengan menggunakan kurikulum integralistik. Atau, membentuk sebuah sekolah yang memadukan pengajaran ilmu agama Islam dan ilmu umum.

KH Ahmad Dahlan juga menyebarkan ide sekolah tersebut pada penduduk di Kauman. Namun, sayangnya mereka secara tegas menolak ide pendidikan sistem sekolah tersebut kaena dianggap bertentangan dengan tradisi Islam.

Akibatnya, para santri yang selama ini belajar kepada Ahmad Dahlan satu per satu mengundurkan diri. Tetapi, hal itu tidak lantas membuatnya goyah, beliau tetap mendirikan sekolah tersebut dan dimulai hanya dengan 8 siswa.

Segala keperluan belajar telah disiapkan oleh KH Ahmad Dahlan. Mulai dari ruang belajar berupa ruang tamu rumahnya yang berukuran 2,5 m x 6 m, dua buah meja miliknya sendiri, hingga dua kursi tempat duduk para siswanya dibuat olehnya sendiri.

Keperluan belajar dipersiapkan sendiri oleh Ahmad Dahlan dengan memanfaatkan dua buah meja miliknya sendiri. Sementara itu, dua buah bangku tempat duduk para siswa dibuat sendiri oleh Ahmad Dahlan dari papan bekas kotak kain mori dan papan tulis dibuat dari kayu suren,” bunyi tulisan dari pihak Universitas Muhammadiyah Riau.

Seiring berjalannya waktu dan jumlah murid yang bertambah, pendirian sekolah itu pun mendapat dukungan besar dari pengurus Budi Utomo serta siswa dan guru dari Kweekschool Jetis.

Setelah menerima banyak masukan dari orang sekitar, proses belajar mengajar di sekolahnya semakin teratur. Hingga sekolah atau madrasah yang dirintis KH Ahmad Dahlan menggunakan kurikulum integralistik itu pun resmi pada 1 Desember 1911.

Sumber : detikedu

Leave a Reply