Artinya, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kalimat yang menjadi semboyan Pemuda Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini diambil dari firman Allah yang terdapat di dua ayat di dalam Al-Quran, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 148 dan Surah Al- Maidah ayat 48. Petikan kalimat Fastabiqul Khairat ini seringkali diucpkan ketika hendak mengakhiri ceramah, utamanya dilakukan oleh warga Muhammadiyah. Tidak bisa diketahui secara pasti, kapan kebiasaan ini dimulai. Yang pasti, kebiasaan pengucapan kalimat ini begitu melekat dilingkungan warga Muhammadiyah.

Semboyan ini merujuk pada sebuah ayat yang menerangkan bahwa orang yang berinfak sebelum penaklukan Mekkah lebih tinggi derajatnya dibanding orang yang berinfak setelah itu. Oleh karenanya, berangkat dari rujukan ayat itu, spirit ini tersirat dari arti Fastabiqul al-Khairat, tidak lain bahwa orang yang lebih dahulu melakukan kebaikan lebih tinggi derajatnya daripada orang yang melakukan kebaikan yang sama setelahnya.

Menjadi pribadi Fastabiqul Khairat, yang gemar berlomba dalam kebaikan, bukanlah perkara yang mudah. Butuh keseriusan untuk menjaga semangat dan berkomitmen dalam kebaikan. Inilah lima resep yang bisa menjadi solusi untuk mempertahankan semangat dalam berbuat baik.

Pertama, niat yang ikhlas. Ikhlas beribadah atau beramal shaleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena Allah. Kebalikan dari ikhlas adalah riya’ dan sum’ah, yakni beribadah karena ingin dinilai sebagai orang baik oleh manusia.
Ikhlas dengan indah digambarkan dalam doa iftitah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku lillahi Rabbil Alamiin.” Jadi, ikhlas adalah melakukan segala hal lillah. Apa artinya lillah? ada tiga makna lillah: karena Allah, untuk Allah dan kepunyaan Allah.
Jika kita sudah bisa ikhlas dalam beramal, pastilah beramal itu akan menjadi hal yang menyenangkan. Maka semangat Fastabiqul Khairat akan senantiasa berkobar dalam jiwa kita.

Kedua, resep untuk bersemangat dalam beramal shaleh adalah cinta kebaikan dan  cinta kepada orang baik. Hal ini juga ada hubungannya dengan keikhlasan, yakni beramal semata karena Allah. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik, maka kita menjadi cinta kebaikan sekaligus suka dengan orang yang gemar berbuat baik. Inilah penegasan Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 195:“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Ketiga, merasa beruntung jika melakukannya. Sikap ini hadir karena kita percaya dan yakin kepada Allah. Jika iman sudah merasuk dalam jiwa, maka kita akan merasa beruntung jika terus melakukan perbuatan baik demi untuk menggapai ridha-Nya. Jika perasaan demikian sudah muncul, maka semangat untuk berlomba dalam kebaikan akan senantiasa berkobar tak pernah padam.

Keempat, meneladani generasi yang beramal baik. Era Rasulullah dan para sahabat adalah era “khairu ummah”, umat terbaik. Maka kita perlu belajar dan meneladani mereka. Rasulullah SAW dan para sahabat senantiasa bersemangat dan berjuang tanpa henti untuk menebar kebaikan pada semua orang, baik kepada orang mukmin maupun kafir. Hal ini harus kita teladani, mudah-mudahan menjadi jalan agar kita kelak dikumpulkan di surga bersama mereka.

Kelima, memahami ilmu tentang kebaikan. Sayyidina Ali pernah berkata, “Tubuh kita ini selalu melewati enam keadaan, yakni sehat, sakit, mati, hidup, tidur dan bangun. Begitu pula ruh. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya akibat tidak adanya ilmu. Sehatnya hati adalah berkat keyakinan, dan sakitnya hati karena keragu-raguan. Tidurnya hati adalah akibat kelalaian, dan bangunnya hati karena zikir yang dilakukan.”

Maka ilmu sangatlah penting untuk selalu membuat hati kita hidup. Ilmu apa saja perlu dipelajari agar kita tidak terjerumus ke dalam kehinaan. Maka mempelajari ilmu wajib bagi kita. Jika ilmu tentang kebaikan sudah kita genggam, maka semangat melakukan kebaikan akan terus tumbuh dalam jiwa kita. Sebab dalamnya ilmu itu menjadi bekal untuk beramal demi kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dalam ber-Fastabiqul Khairat semua mesti direncanakan, disiapkan dan diazamkan bahkan didoakan, agar Allah memudahkan terwujudnya segala macam rencana positif yang diniatkan.Ketika seorang Muslim memiliki mental Fastabiqul Khairat maka hidupnya akan diwarnai dengan keteraturan dan optiisme karena setiap mengamalkan kebaikan diawali dengan perencanaan dan kesungguhan.

Membiasakan diri ber-Fastabiqul Khairat akan menyelamatkan diri kita dari kesia-siaan waktu. Bahkan seseorang akan mengetahui posisi dirinya dengan senantiasa ber- Fastabiqul Khairat, sehingga tidak ada waktu terbuang, karena semua dihadapi dengan perencanaan dengan sebaikl-baiknya.

Fastabiqul Khairat itu adalah suatu konsep yang menghendaki segenap umat Islam segera melakukan aksi kebaikan untuk mendapat ridha-Nya. Jika ada yang lain juga melakukan, maka berusahalah untuk melakukan dengan kualtias terbaik (Ahsanu Amala) dan terus-menerus. Dalam Islam dikenal istilah Adwamuha wa in qalla (terus-menerus alias ajeg meski sedikit).

Melalui semboyan Fastabiqul Khairat ini, Muhammadiyah menekankan kepada warganya agar selalu berada di garus depan dalam mencari terobosan-terobosan dalam rangka mengangkat harkat dan martabat umat Islam, baik di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, maupun keagamaan itu sendiri.(Imron Nasri)

Sumber  Suara Muhammadiyah

Leave a Reply