Memasuki era digitalisasi, pemasaran secara digital seperti jasa dan produk yang dihasilkan oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia, lumrah terjadi. Oleh karena itu, kolaborasi antar kementerian/lembaga baik di dalam maupun luar negeri dalam rangka penyiapan lulusan vokasi yang andal, gencar dilakukan.

Mendukung hal tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat SMK, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) melakukan kolaborasi bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing, Tiongkok, The Center for Language Education and Cooperation (CLEC), Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan ASEAN-China Center, mengadakan pelatihan virtual untuk 600 guru SMK.

Dalam sesi pembukaan pelatihan secara virtual, Direktur Jenderal Diksi yang diwakili oleh Direktur SMK, Wardani Sugiyanto, mengungkapkan antusiasnya. Ia menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari penyiapan pengajar maupun calon lulusan vokasi yang tidak hanya andal secara kognitif (hard skills) namun juga dilengkapi dengan keterampilan nonteknis (soft skills), kepemimpinan (leadership) serta kewirausahaan (entrepreneurship) di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi kementerian/lembaga ataupun perguruan tinggi yang ikut terlibat dalam pelatihan guru SMK bidang TIK ini dalam menghadapi persaingan pasar digital global,” tuturnya pada Senin (14/3). Acara yang bertajuk “Upskilling Training on Computer Networks Technology” ini dimulai dari tanggal 14 s.d. 23 Maret 2022. Sebanyak 600 guru vokasi akan mengikuti pelatihan yang dilaksanakan melalui platform virtual sebanyak 24 jam. Dengan rincian, 200 guru yang mengikuti kelas pelatihan E-commerce, 200 guru mengikuti kelas pelatihan Computer Networks Technology, dan 200 guru mengikuti kelas pelatihan Logistic Management.

Salah seorang peserta kelas pelatihan Computer Networks, guru animasi 2D/3D dan Media Interaktif di SMKN 4 Manokwari, Papua Barat, Tri Sapto Adji turut membagikan kesan atas pelatihan ini. “Kami mengapresiasi Kemendikbudristek atas pelatihan ini. Kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) sangat diperlukan untuk mewujudkan pendidikan berkualitas dan merata untuk mencerdaskan anak bangsa,” ujar guru yang aktif menulis sekaligus pengembang aplikasi pendidikan bidang TIK ini.

Turut hadir dalam acara pembukaan, Wakil Kepala Perwakilan KBRI Beijing, Dino R. Kusnadi. Dalam sambutannya ia mengungkapkan bahwa hubungan bilateral Indonesia dengan Tiongkok telah berlangsung selama 72 tahun. Ia berharap, melalui pelatihan ini, hubungan baik tersebut dapat terus berlanjut ke dalam pertukaran ilmu dan budaya.

“Pertukaran budaya telah berlangsung selama lebih dari ratusan tahun. Sehingga dengan adanya pelatihan vokasi di bidang manajemen logistik, jaringan komputer dan e-commerce ini dapat melanjutkan tradisi panjang yang telah kita lakukan di masa lalu dan dapat menjadi wadah untuk memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat kita,” jelas Dino.

Dalam kesempatan terpisah, Atdikbud KBRI Beijing, Yaya Sutarya mengungkapkan bahwa pelatihan untuk guru SMK merupakan komitmen Pemerintah RRT di bidang vokasi dalam peningkatan kualitas guru di SMK. “Kiranya para peserta dapat memanfaatkan dengan baik pengalaman baru ini dan dapat mendiseminasikan pengalaman dan ilmu kepada guru lain sehingga dapat memberikan efek kejut yang besar dalam peningkatan guru SMK,” tegas Yaya.

Seperti diketahui, Kantor Atdikbud KBRI Beijing terus meningkatkan pendekatan sosial budaya (soft diplomacy) melalui pelatihan berkelanjutan dengan sasaran guru SMK. Pada bulan Desember 2021, telah dilaksanakan pelatihan guru vokasi untuk meningkatkan kompetensi bidang pariwisata, kali ini pelatihan difokuskan pada pengembangan TIK.
Dukungan serta apresiasi turut disampaikan oleh Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagaimana disampaikan oleh Director General of CLEC, Ma Jienfei yang mengatakan bahwa Indonesia dan Tiongkok merupakan mitra kerja sama yang terus berkembang dalam lingkup The Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

“Dalam konteks ini, CLEC berkeinginan untuk terlibat dan memperkuat pertukaran pendidikan dan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia serta mempercepat pelatihan bagi para talenta yang memahami bahasa Mandarin dan menguasai keterampilan untuk melayani pembangunan ekonomi bersama di wilayah-wilayah RCEP,” paparnya.

Kebermanfaatan pelatihan turut dirasakan oleh seorang peserta yang mengikuti kelas pelatihan E-Commerce, Risma Sibarani, guru kejuruan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP) SMKN 2 Bisnis Manajemen Jayapura, Papua. “Melalui pelatihan ini, saya ingin menjadi guru yang belajar secara langsung dari praktisi bidang vokasi di Tiongkok untuk selanjutnya diimplementasikan kepada peserta didik saya sehingga dapat memiliki kompetensi yang siap kerja serta sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI),” harapnya.

Leave a Reply