Muhammadiyah menjadi representasi otentik dari Islam rahmatan lil ‘alamin. Pasalnya, paradigma keagamaan tentang din dan dunya dalam “Masalah Lima” yang diyakini Muhammadiyah menunjukkan integrasi agama dan ilmu pengetahuan. Muhammadiyah berpendirian bahwa ajaran Islam yang meliputi akidah, akhlak, ibadah, dan mualamah merupakan kesatuan yang tidak boleh dipisah-pisah.

“Akidah itu ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan, Akhlak itu ajaran yang berhubungan dengan pembentukan mental, ibadah itu ajaran yang berhubungan dengan peraturan dan tata cara hubungan manusia dengan Tuhan, dan muamalah itu ajaran yang berhubungan dengan pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat,” ujar Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Hamim Ilyas dalam Sosialisasi Ketarjihan pada Jumat (22/04).

Dalam rangka memaksimalkan peran ilmu di segala bidang, Muhammadiyah tidak mengkotak-kotakkan ilmu pengetahuan dalam sangkar besi taksonomi atau membeda-bedakan antara pengetahuan yang satu dengan yang lain. Muhammadiyah memaksimalkan semua peran ilmu dengan kerangka spiral keterkaitan antara tiga epistemologi bayani, burhani, dan irfani.

Pengetahuan bayani bersumber dari teks al Quran dan Hadis dengan analisis menggunakan kaedah-kaedah tasyri’iyyah, lughawiyah dan taqalidiyah. Sementara burhani bersumber dari akal dengan analisis menggunakan penaralan pembebasan, keutuhan, fungsional, dan kontekstual. Terakhir menggunakan pendekatan irfani yang bersumber dari intuisi dan kearifan dalam pemahamanan tentang realitas.

Dengan memaksimalkan ketiga peran ilmu di atas, Hamim yakin akan tercipta hayah thayyibah sebagaimana disebut dalam QS. An-Nahl ayat 97. Dalam tafsir sabahat, hayah thayyibah meliputi tiga kriteria: pertama, rejeki halal, pendapat ini dari Ibn Abbas dalam satu riwayat; kedua, qanaah atau kepuasan, pendapat ini dari Ali bin Abi Thalib; dan ketiga, kebahagiaan, hal ini menurut Ibn Abbas dalam riwayat yang lain.

Tafsir sahabat ini sejalan dengan perolehan iman dan amal shaleh yang disebutkan dalam al-Baqarah ayat 62 dan menjadi kriteria hayah thayyibah yang diajarkan al-Qur’an, yaitu: 1) lahum ajruhum ‘inda rabbihim (sejahtera sesejahtera-sejahteranya/ar-rafahiyyah kulluha); 2) wa la khaufun ‘alaihim (damai sedamai-damainya/as-salamu kulluha); dan 3) wa la hum yahzanun (bahagia sebahagia-bahagianya/as-sa’adatu kulluha) di dunia dan di akhirat.

Tiga kriteria di atas merupakan usaha-usaha yang dilakukan Muhammadiyah dalam bentuk amal usaha. Dengan demikian, ucap Hamim, Muhammadiyah menganut Mazhab al-Ashaliyah, mazhab yang mengikuti ajaran-ajaran yang otentik, dalam pengertian ajaran-ajaran yang sesuai dengan hakikat Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dan para pengikutnya menghadirkan diri dalam kehidupan dengan gembira dan menggembirakan.

Leave a Reply