Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) berkolaborasi dengan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) melalui penelitian tentang Perfilman, Kriteria Penyensoran, dan Budaya Sensor Mandiri. Hasil penelitian tersebut disosialisasikan di Hotel Century, Senin (18/12).

Penelitian ini  dilakukan secara Mix Methode dengan 457 orang responden yang berasal dari empat kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar. Responden dengan klasifikasi usia Semua Umur, 13+, 17+, dan 21+. Survey yang dilakukan dengan instrumen daftar pelaksanaan dan penyetaan, FGD yang dilakukan bersama pakar-pakar hebat ini dilakukan untuk menggali informasi sebelum pelaksanaan riset maupun setelah pelaksanaan riset. Hasil dari penelitian ini, 89% responden lebih banyak menonton melalu jaringan internet atau sosial media dan berlangganan, sedangkan 9% menonton TV dan 2% menonton langsung di bioskop.

Melalui hasil penelitian ini juga terlihat anak-anak lebih banyak mengakses film melalui smartphone dibandingkan melalui televisi atau Bioskop. Ada tiga genre film yang sangat ditunggu oleh masyarakat, seperti genre film horor, drama dan komedi. Penelitian akan menciptakan hasil berupa penguatan kebijakan, seperti perubahan klasifikasi usia khususnya 17+.

Dalam kegiatan Sosialisasi penelitian tersebut,  Prof. Nani Solihati  Wakil Rektor III Uhamka menyampaikan bahwa penelitian ini merupakan langkah signifikan dalam upaya memahami pentingnya sensor film dalam menyajikan konten yang bermutu dan relevan.

”Kedepannya, Hasil penelitian ini akan dipublikasikan dalam bentuk  artikel yang akan dimuat di jurnal nasional maupun internasional sebagai salah satu referensi dan masukan khususnya untuk orang-orang yang fokus dalam peningkatan kualitas perfilman yang ada di Indonesia,” ujar Prof Nani.

Di lain pihak, Prof. Fasli Jalal selaku pakar pendidikan mengungkapkan bahwa hasil penelitian ini sangat baik untuk terus meningkatkan hasil sensor yang dilakukan oleh lembaga sensor film untuk menjaga film agar  menjadi salah satu sarana edukasi bagi anak-anak. 

”Film memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi karena mampu menyampaikan informasi dan konsep dengan cara yang menarik dan mudah dicerna oleh penonton. Maka sekiranya, penelitian ini dapat menjadi sarana peningkatan kualitas film di Indonesia,” pungkasnya.

Kegiatan sosialisasi ditutup oleh penyampaian dari Evan Ismail selaku wakil ketua LSF, bahwa tantangan terbesar kedepan semoga akan ada aplikasi yang dapat membantu orang tua dalam mengontrol dan memberikan batasan kepada anak anak dalam menonton film yang sesuai dengan usianya.

Leave a Reply